Minggu Jaim

14 Desember lalu merupakan hari yang sangat istimewa. Karena, pada hari itu, kesendirian telah sirna. Telah tergantikan oleh kebersamaan. Dan layar pun terkembang. Siap mulai suatu kehidupan yang baru.

Setelah dulu, mengarungi hidup ini dengan seorang diri, maka sekarang akan ada seorang macan, manis dan cantik, yang akan menemani. Oh indahnya!

Makanya wajar bilamana pada hari itu merupakan suatu hari yang istimewa. Istimewa bagi Ismail tentu saja, sahabat saya di DTE dulu. Teman sejati yang dicarinya selama ini telah ditemui. Teman sejati yang akan selalu menemaninya dalam suka maupun duka. Bersyukur kini pada-Mu Ilahi. Coz, telah dilangsungkannya pernikahan pasangan ganda campuran abad ini. :mrgreen:

“Barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baynakuma fi khair.”

Semoga berkah Alloh tetap untukmu, dan semoga berkah Alloh tetap ke atasmu dan semoga Alloh mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. [Hadits diriwayatkan oleh Imam Tarmidzi, Abu Daud, dan Ahmad]

Di walimahan tersebut, saya juga bertemu dengan sahabat-sahabat di DTE dulu. Khususnya anak-anak kelas F. Setelah sekian lama tak bersua, melalui walimatul ursy’ ini kami dikumpulkan. Suatu momen yang langka tentu saja.

Lokasi TKP (Tempat Kondangan Pernikahan) terletak di daerah Tamanan, Banguntapan, Bantul. Hal ini berarti, sang Permaisuri yang dipersuntingnya adalah cah mBantul. Lokasi TKP sekitar 15 km (kurang lebih, masih bisa nego kok  🙂 ) dari kota Jogja. Not far enough.

Saya berangkat ke TKP bersama 2 orang sahabat yang lain. Dalam perjalanan, kami bertiga memutuskan untuk tidak memberikan BLT (Bantuan Langsung Telas Tunai) kepada kedua mempelai, melainkan kado saja. Kami merasa sungkan bila diberikan dalam bentuk BLT alias dalam bentuk bahan mentah. Kayaknya ‘gimana’ gitu. Meskipun pada undangan tidak tertera peringatan yang berbunyi: “SUMBANGAN DALAM BENTUK BLT LEBIH DIUTAMAKAN, BUKAN KARANGAN BUNGA, APALAGI CUMA KARANGAN CERITA.” Akhirnya kami pun mampir di sebuah toko di daerah Sagan. Untuk mencari hadiah bagi kedua mempelai.

Kado pun dapat. Dibungkus dengan kertas bermotifkan love. Sempurna! Perjalanan dilanjutkan. Kami sudah dikejar sang waktu. Dalam undangan, acara dimulai jam sepuluh sampai dengan selesai. Sedangkan saat itu waktu menunjukkan sekitar jam sebelas siang.

Next destination adalah daerah jaim (Jln.Imogiri). Itulah sebabnya judul postingan ini adalah Minggu Jaim. Coz, lokasi TKP terletak di daerah jaim (jalan Imogiri) dan dilangsungkan pada hari minggu kuturut ayah ke kota. Jaim disini merupakan akronim dari jalan Imogiri, bukan jaga iman ataupun jaga image. :mrgreen: FYI (for your information), nama jalanan di Jogja, ada beberapa yang disingkat, semisal jaim (jalan imogiri), jakal (jalan kaliurang), jamal (jalan magelang), jago (jalan godean), jalan paris (parangtritis), jalan monjali (monumen jogja balik maning kembali), atau mungkin masih ada yang lainnya.

Kemudian, dari toko kado tadi, rute yang kami tempuh melalui Sagan-Jembatan Layang Lempuyangan-Stadion Mandala Krida-Perempatan GOR Among Rogo-Perempatan SGM-Terminal Giwangan-Jaim-Perempatan Ngoto-Lokasi TKP-nyampe. Dibutuhkan waktu 30 menit (kurang lebih, sekali lagi masih bisa nego 🙂 ). Alhamdulillah, nyampe juga.

Mengisi buku tamu, menyerahkan kado, lalu mulai mencari sahabat-sahabat kami yang lain, yang kemungkinan sudah tiba terlebih dahulu. Dan benar saja, ternyata sahabat-sahabat kami yang lain telah tiba dan ‘ngumpul’ di pojokan. Kami pun segera join dengan mereka, dan ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul, ngetan-ngulon. 🙂

“Btw, dah salaman sama si Mail (sang mempelai pria-red) belom nih pada?”

“Belom.”

“Ouw..bat nyamuk belom juga tho. Kirain kami bertiga aja yang belom. Kalo gitu ada temennya.”

Saya sedikit heran. Coz, biasanya khan kalo datang ke acara kondangan seperti ini, setelah mengisi buku tamu, lalu menyalami pengantin, kemudian baru makan. Tapi, di walimah kali ini, setelah mengisi buku tamu, kami bertiga langsung disuruh duduk, lalu makanan diantarkan kepada kami.

Di tengah acara, baru ada acara semacam khotbah nikah dari salah seorang kyai (sepertinya). Coz, Ismail ini saat masih kuliah di DTE dulu dia juga ‘mondok’ di ponpes daerah Kotagede (kalo gak salah). Nah, baru setelah khutbah nikah ‘rampung’ dan ditutup dengan do’a, lalu kedua mempelai turun dari pelaminan menuju ke luar. Dan disini baru kutemukan jawaban kegundahan hatiku tadi. Terjawab sudah, kapan kami salaman dengan si Mail. Rupanya, saat inilah momen salaman itu. Jadi, kedua mempelai berjalan menuju ke luar. Lalu diikuti oleh para tamu undangan yang hadir, berjalan di belakang kedua mempelai, kemudian ketika sampai di pintu (masuk/keluar) kedua mempelai berhenti dan menyalami para undangan.

Ouw…rupanya begitu tho adatnya. Baru tahu saya. Jadi kalo boleh saya simpulkan, kronologis acaranya kira-kira seperti ini, para tamu undangan dikumpulkan terlebih dahulu, lalu diantarkan makanan kepada mereka, kemudian khutbah nikah dan ditutup do’a, setelah itu sang pengantin menuju ke luar untuk menyalami para tamu undangan yang akan pulang. Dan acara walimah pun selesai sudah. Setelah para tamu undangan habis, acara berikutnya adalah sesi pemotretan dilanjutkan dengan makan siang bagi kedua mempelai.

Hal ini menjadi pengalaman baru dalam menghadiri kondangan nikah bagi saya dan bagi sahabat-sahabat yang lain juga ternyata. Kesannya, para tamu undangan ‘diusir’ untuk segera pulang dan jangan berlama-lama. Barangkali ini emang adat/budaya/tradisi mBantul apa ya!? Entahlah, saya kurang paham hal-hal beginian.

Dengan berakhirnya acara walimah, maka berakhir pula postingan kali ini. Setelah dari acara walimah ini, kami bertiga menuju ke rumah Bapak Djaka Sasmita (siapa beliau??, coba di-googling aja) dan ke tempat pemakaman raja-raja di daerah Imogiri. Biasa, jalan-jalan. Mumpung kami lagi ngumpul dan ada kesempatan. It’s time to refresh. 8)

Iklan

50 thoughts on “Minggu Jaim

  1. “Barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baynakuma fi khair.”

    moga langgeng ampe ke surga……..

    temannya ya mas? mas udah? kapan?

    btw, thanks ya mas udah mampir di blog sy 🙂

    hu um. Itu pernikahan teman saya.

    I’m available. Saya masih menata hati, mas. 🙂

    bidadariku,
    namamu tak terukir
    dalam catatan harianku
    asal usulmu tak hadir
    dalam diskusi kehidupanku
    wajah wujudmu tak terlukis
    dalam sketsa mimpi-mimpiku
    indah suaramu tak terekam
    dalam pita batinku
    namun kau hidup mengaliri
    pori-pori cinta dan semangatku
    sebab,
    kau adalah hadiah agung
    dari Tuhan
    untukku
    bidadariku.
    ** Kang Abik-AAC **

    u r welcome.
    thanks jg kunjungan baliknya.

  2. lagi musin kawin ya…..

    “Barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baynakuma fi khair.”

    selain musim kawin, juga musim batuk+pilek. 😀

    itu yg merit sahabat sy loh…not me.

  3. Oh, jadi bukan situ toh? 🙄 kirain ^^a
    Barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baynakuma fi khair

    yup. Bukan saya, melainkan sobat sy. Jd, do’anya ditujukan ke dia. :mrgreen:

    btw, gk buat blog lagi? Or barangkali, elangnya pengen terbang bebas ya.

  4. barakkaalh..
    selamat yaa.. 🙂

    waduh, perlu dikoreksi nih. Yg menikah itu sahabat sy. Sedangkan status sy terakreditasi A terdaftar…sbg anak dari kedua ortu sy. :mrgreen:

    thanks.

  5. seiring waktu berlalu begitu cepat
    aku datang keblogmu dengan membawa Software can’t copy CD 🙂
    salam kenal

    ouw…terimakasih mas. Kok jd ngrepotin, bawa bingkisan tuk saya. :mrgreen:

    thanks! Dah tak unduh bingkisannya.

    Salam kenal juga, juga salam kenal. 🙂

  6. hmm ntar kalo sampai giliran mas yo jangan lupa sie diundang ya plus tiket pp, xixixixi. Emang hatinya kenapa mas?

    boleh..boleh..boleh. Punya no.Rekening khan. Nomor rekening listrik sie, brp? *loh!?* :mrgreen:

    hati saya baek2 saja kok. Tapi, terkadang kurang stabil en labil, shg menyebabkan sikap ini mudah berubah-ubah. Oleh karenanya, ada do’a yg dianjurkan agar selalu dibaca,
    “yaa muqalliba al-quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika, wa ‘alaa thaa’atika, subhaanaka, inni kuntu mina al-zhaalimiin.”
    [Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku atas diin-Mu, dan atas ta’at akan Dikau, mahasuci Engkau, sesungguhnya aq ini termasuk org yg menzhalimi diriku.]

    Rabbi…jika aq jatuh cinta
    ku ingin terbang cepat
    hingga syaithan pun tak hinggap

  7. semoga menjadi keluarga yang sakinah…Amin…bukan buat kamu tapi buat yang nihak hahahahahah

    🙂 gak usah buru2 ngetiknya, nulis nikahnya ampe salah tuh.

  8. ^_^ Barakallah…

    Kapan nyusul mas?

    *dinantikan ya undangannya…!*

    Menyegerakan tp tidak tergesa. Insya Alloh. yg jelas bkn di thn 2008 ini. 🙂

    *dinantikan pula kado/BLT-nya, tp bkn karangan bunga apalagi cuman karangan cerita* :mrgreen:

  9. Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka, wajama’a baynakuma fi khoir… –.> untuk yg lagi nikah…
    Moga yg masih lajang segera ketularan ya 😉 ,trutama yg posting ini :mrgreen:

    allahumma aamiin.

    Jazakillah khair yaa ukhti. 🙂

  10. SElamat…selamat buat temannya, ya…
    Barakallahu laka, wa baraka ‘alayka, wajama’a baynakuma fi khoir…

    Buat mas Yodama gak usah berkecil hati…bidadari insyaallah akan menyusul kelak…

    besar hati pun tak baik. Nah loh!? :mrgreen:

    boys don’t cry. 8)

    untuk sementara terima award dari putri dulu, ya…

    mohon diterima, ya ?

    Terima kasih..

    sbg pelipur lara nih ceritanya. Eko eh oke deh, tak tampung dulu ya mbak. Ntar kl dah, baru tak pajang di halaman piye DAB? itu.

    Terimakasih kembali.

  11. wahh..adatnya antik, bener-bener terkesan ‘diusir’ hahha..
    untung gak nunggu salaman dulu baru makan ya :mrgreen: salam selamat dan doa untuk temennya ^^

    yup. Itu pengalaman pertama saya. Kaget jg awalnya

    Makanannya bkn sistem prasmanan, melainkan diantarkan/diberikan langsung pd tamu undangan yg hadir. Porsinya sama mbak. Gak pake ‘EO-EO’-an. Wong di kampung mbak. Kalo masalah ini, sy tdk heran, maklum adanya. Yg heran ya cuman saat salaman dg pengantinnya itu.

    Thanks.

  12. wah .. kirain si penulis yg kawin.. hhi
    slamat deh buat yg nikahan 🙂

    hehehe…tertipu ya 😀

    redaksinya bkn kawin dik, tapi nikah. Kalo kawin mah binatang. 🙂

  13. Ayo cepet susul…………! 😉

    dukung saya ya! hehe… emang acara benteng Takeshi. 🙂

    do’akan ya pak!

  14. semoga si empunya blog segera bertemu dengan bidadari yg disiapkan Allah 🙂

    allahumma aamiin.

    Jazakallah khair, yaa akhi. 🙂

  15. Selamat menikah moga2 cepet punya anak (tuk temanmu)
    Selamat mengunjungi pernikahan (tuk dirimu)
    :mrgreen:

    terimakasih…terimakasih… 🙂

  16. *baca jawaban buat saya*
    Ups, maaf, abis fast-read, jadi saya pikir situ yg merit :mrgreen:

    …elangnya pengen terbang bebas ya?

    Ah dikau pengertian skali *terharu*

    btw, gk buat blog lagi?

    utk saat ini belon ^^
    emg kalo bikin, situ mo bantu ndandanin? *pasang wajah memelas, biar dibantuin*

    *jalan2 lagi*


    >>> yodama:
    saya gak bisa ndandan. Biasanya khan ‘kaum hawa’ paling jago kalo soal ndandan. :mrgreen:

  17. Musim ujan, musim rambutan, musim kawin, musim patah hati (apalagi kalo yg kawin para idola ikhwah!). Walaupun gak ikut musim kawin taon ini,alhamdulillah gak jadi peserta musim patah hati juga. Wkkk. Ikut musim kawin taon depan yuks..ah..

    ternyata Indonesia gak cuman punya dua musim aja ya (hujan dan kemarau) mbak?? Masih ada banyak musim lainnya. :mrgreen:

    mo ikutan musim nikah taon depan ya…sok atuh. 🙂

  18. mabruuuk aja…..

    waah…jadi kepengen jg nih…..:)tp kpn yaaa…:-?

    kalo calonnya dah ada, tinggal ngomong aja ke walinya. 🙂

    gadis Mesir katanya cantik2 mas. Sebagaimana diceritakan kang Abik dlm salah satu novelnya, “Kalo ada 3 org gadis Mesir, maka yg cantik ada 6 org. Coz, bayangannya jg cantik.” Hohoho… :mrgreen: bener gk tuh!?

  19. semoga barokah dan murah rezeki, amiin..
    barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baynakuma fi khair.”

    jazakallah khair. Sekali lagi, do’anya tuk sahabat saya ya. 🙂

  20. Agak unik juga yaa.. biasany sih dateng langsung menuju panggung pengantin, nyalamin, lalu ngambil makan trus nyari tempat duduk. Nah mau pulang besoknya juga gak di larang, terserah.. Bisanya aku duduk makan sambil menikmati musyiikk…. setelah puas dengerin lagu2 pulang dehhh 😀

    ya begitulah Bu. Kalo biasanya, persis seperti apa yg Ibu katakan. Nah kemaren itu, ada yg ‘beda’.

    Kalo dah puas dengerin lagu baru pulang ya!? Kalo saya, setelah menyantap semua hidangan yg ada, baru deh pulang. :mrgreen:

  21. Menurut Robert J Sternberg: A Triangular Theory of Love (Teori Segitiga Cinta). , jenis cinta tergantung dari sifat hubungan kita dengan orang lain. Komitmen saja tanpa gairah dan keakraban adalah Cinta Kosong. Gairah saja tanpa dua unsur yang lain artinya tergila-gila. komitmen dan keakraban tanpa gairah menjadikan persepsi cinta sebagai Cinta Persahabatan. Keakraban dan gairah tanpa komitmen membuat Cinta Romantis. Sedangkan komitmen dan gairah tanpa keakraban menyebabkan Cinta Buta. Ketika kita berhasil menyatukan komitmen, gairah dan keakraban maka akan terjadi Cinta Sempurna.

    Bertambah lagi info bagi saya mengenai teori cinta. Thanks! Dan cinta sejati hanyalah kepada sang Khaliq, Alloh azza wa jalla.

    Terima kasih telah mengunjungi blog saya

    “Ya Allah, tempatkan dunia di tanganku, bukan di hatiku”

    Salam,

    Basir
    Brainmatics Cipta Informatika
    http://Brainmatics.Com
    Tlp. +62-21-83793383
    Fax. +62-21-83793384
    My Blog : Guidelife.wordpress.com
    Yahoo!ID : basir_edu

    sama-sama… Salam kenal kembali pak Basir. 🙂
    *penasaran dg brainmatics. tak meluncur ke TKP ah*

  22. Barakallâhu lahu…
    Kirain antum yg walimahan.
    Hebat, sayang temen!
    Salam kenal kang Yodama, haturnuhun atas kunjungannya pagi tadi…
    Lama nian Jogja tak kusapa, rindu hati ingin jumpa!

    yup, walimatul ‘ursy teman kuliah sy 🙂

    salam kenal kembali. Tadi pagi lagi jalan-jalan.

    Jogja siap menanti kok dan tak akan lari. *yaeyalah*

  23. lam kenal nya!!
    ie budak bandung anu nuju belajar ngadamel blog!! hehe

    salam kenal juga kang.

    budak bandung tho. saya kurang paham basa sunda, kang. Dulu jaman SD, nilai basa sunda saya jelek. :mrgreen:

    maksud komennya, akang Herdi baru belajar buat blog ya? (CMIIW)
    sama dunk kalo gitu. kita sama2 belajar ya. Tidak ada istilah telat untuk belajar. Semangat!

    thanks!

  24. Barakallahu laka wabaraka alaika wa jama’a baynakuma fi khair

    untuk temennya 😀
    ya.. insyaAllah udah disiapkan untuk si mas-nya calon pengantin sama Dia..

    ya…jodoh tetap masih menjadi salah satu misteri Ilahi. Konon pula, jodoh itu seperti cermin.

    saya juga baru tau walimahan yang begitu.. itu termasuk adat ya?? tapi bagus juga kan.. jadi.. tamunya ga lama2.. 😀

    entahlah, itu adat atau bukan. Saya jg kurang paham.

    Mau gak mau, qt hrs menunggu seluruh rangkaian acara selesai dulu, baru bisa tuk b’salaman sm pengantin.

    terima kasih udah singgah di langitnya layanglayang.. 🙂

    OK. Sama-sama. Thanks jg kunjungan balasannya. 🙂

  25. Hah … Jadi …
    Jaim itu … jalan imogiri toh …
    Dan ya saya juga baru tau kalau ada tata cara walimahan seperti itu …
    Selamat untuk Ismail temannya Yodama …

    bener om. Di zogza, tepatnya di mBantul terletak jaim itu. Kenapa dinamakan jaim? Coz itu mrpkn jalan menuju ke daerah Imogiri.

    Baru tau jg khan ttg tatacara walimah spt itu… saya gk sendirian berarti… 🙂

    Hmm yang jelas …
    Saya suka Ismail, Tapi saya benci Temannya … (ini saya boleh Duduk …)(hehehe)

    wah…masih ngajak nge-game nih. Berarti benci ama saya dunk. 😥

    eniwei, game-nya asyik juga. Bisa dicoba ntar ah.

  26. Weeh… Jaim rame lagi, kapan ya bisa kesana, sekedar melepas rindu dengan sedulur yojo.

    kapan ada waktu ni pak? Sedulur2 neng yojo mesti wes podo kangen sampeyan pak. 🙂

    akhir tahun ni gk ada niatan liburan neng yojo pak?? Hehe…

    malah di daerahku sebelum ngisi buku tamu disemprot parfum dulu sama penerima tamu. kaget juga sih.

    wah…daerah mana tuh pak. Antik juga. Wong kondangan khan biasanya wis rapi jali. :mrgreen:

  27. apa benar petai menyababkan pusing?
    dengan siapa lagi aku bertanya….wahai para blogger mania 🙂
    i love you all bibe…

    meneketehe mas tukyman. Googling aja lah.

  28. Benar khan gie mang sudah waktunya
    sudah banyak yang mendoakan
    tinggal disegerakan 😀
    allahumma amiin….
    Hasil ta’aruf di kampus gmn ? (^.^)

    wah, ini salah satu penghuni kelas F dulu. Nyampe jg disini… 🙂

    Sudah waktunya apa sih, Za? 🙄 gak ngerti…
    *kura2 niup balon, pura2 belagak blo’on 😆 *

  29. Selamat ya mass.. ga sendiri lagi nech.. hehee… 🙂
    lam knal jaa… 😉

    waduh…kamu salah ni. Mesti fast reading. Coba dibaca dg jeli mas. 🙄 i’m available.

    salam kenal juga.

  30. nggak pingin tuh mas…. coba tanya temennya enak gak? udah enak berpahala lagi.
    dengan nikah itu sudah menjalankan setengah dari agama… katanya sih…

    temen saya menyesal keliatanny pak….nyesel gak dari dulu nikahnya… :mrgreen:

    do’akan saja, saya bs menggenapkan setengah dien ini.

  31. Barakallahu lahu…..
    Alhamdulillah…
    selamat buat pak Mail..
    selamat juga buat dimas yodama..(smg mas airlangga89 ga salah akh.. ane siap jadi utusan 🙂 )

    akhirnya, dedengkot kelas F datang… Ahlan wa sahlan. Kemane aje ente? Lama tak bersua kita.

    Btw, OK deh… nanti saya keluarkan ‘SK’-nya. Antum standby ya. Di garut ae po piye? :mrgreen:

  32. Mau tahu ilmuwan muslim dari bantul:

    http://www.mail-archive.com/wanita-muslimah@yahoogroups.com/msg16315.html

    wah mas njawi…Pa kabar? Jadi t4 reunian anggota kelas F yg kemaren gk datang di walimah Mail ya disini… 🙂

    maksudnya ilmuwan mBantul itu, pak Djaka Sasmita ya? Kemaren sy ke tempatnya, tp t4 prakteknya dah tutup. Jd blm bertemu dg beliau. Penasaran aja sih dg metode beliau.

    Thanks artikelnya. Nanti tak baca2 kl dah OL lg, sementara sibuk offline dulu. 🙂

  33. banyak yang ngucapin selamat…buat yg nikah apa termasuk yang ntar nyusul??
    smoga dipermudah…^^

    amiin…insya Alloh.

  34. hihihi bagi yang bacanya ga lengkap pasti ngira kalo mas yang married….iya yaah…baru tau model pesta perkawinan gini, jadi kalo yang datangnya telat misal karena ada dua undangan yang barengan, bisa ga dapat hidangan yaah hehehe…..

    yup…ada yg ‘kecelik’…dikira saya yg merit…padahal khan temen saya 🙂
    Tapi saya maklum kok, kemungkinan mereka pake metode ‘fast reading’.

    Sama berarti kita, baru tau jg khan. Asyiiikkk ada temennya… :mrgreen: Mengenai penjelasannya lebih detail, bisa dilihat pada komen bu Tuti(-k) di bawah.

  35. ooops lupaaa…alamatnya mana ni maas? ke email saya yaaah….buat buku sang pemimpinya….duuh kecian d, bukunya di kamar saya terus nii….

    Alhamdulillah… Saya menang nih mbak…
    Gak bisa ganti yg maryamah karpov aja… Halah! ngarep :mrgreen:

    Terimakasih ya… Sering2 aja ngadain kuis di blognya. Ntar tak coba ikutan lagi. Hehehe… Tandjewberimud (baca: thank u very much).

    Btw, ttg alamat rumah, dulu dah pernah saya kirim via eMail kok. Apa gak nyampe ya?
    Yo wis…nanti alamat rumah tak kirim via imel (lagi) saja. Jangan di ruang publik spt ini, nanti rumah saya bisa kebanjiran hadiah… 😆

  36. Selain Jaim dan Ja-lain-lain, ada juga Jasing (Jalan Sisingamangaraja, rumah saya …. hehehe buka rahasia).

    Domisili di jasing ta bu…tak survey TKP dulu ah…baru denger saya, ada jalan disingkat jasing. Maklum, tuk kawasan DIY bagian selatan saya kurang familiar. :mrgreen: kalo dolan boleh khan bu?

    Wah, ternyata model acara pernikahan seperti itu mengherankan ya. Padahal itu model perkawinan yang lazim di Yogya. Dulu, pesta pernikahan di kota pun begitu (termasuk pernikahan saya). Model pesta berdiri, dimana tamu langsung menyalami pengantin, kemudian makan dan pulang, baru mulai dikenal sekitar tahun 95-an.

    Iya bu. Awalnya kami sempat heran…kok gini ya?
    Ternyata justru lazim di jogja. Berarti saya yg katrok ya…. :mrgreen:
    Terimakasih infonya bu. Jadi ‘ngeh’ saya. Taon saya 95, saya masih SD tuh, masih lutu-lutuna. Hihihi….

    Pada awalnya, pesta berdiri ini dianggap ‘kurang sopan’ dan ‘kurang khidmat’, karena tamu makan sambil berdiri, suasana pesta gaduh oleh orang hilir mudik. Tapi lama-lama orang bisa menerima, dan sekarang tidak ada lagi orang mengadakan pesta duduk (model lama itu). Malahan kalau harus menghadiri pesta duduk, waduuuh …. nggak sabaran. Harus nunggu sampai pesta selesai baru bisa salaman dengan pengantin. Dan kalau ada undangan berbarengan jadi kacau, nggak bisa segera lari ke tempat undangan lain.

    Emang, Rasulullah pun mengajarkan bahwasanya dilarang makan dan minum sambil berdiri.
    Saya prefer yg tetep pake kursi, bukan standing party. Dg standing party harapannya hemat, baik hemat di harga maupun hemat tempat.

    Begitulah, adat berubah seiring dengan perubahan zaman.

    Sepertinya begitu bu.

  37. Akemashite omedetou gozaimasu.

    Yoi otoshi o omukae kudasai.

    maksudnya: met tahun baru, semoga tahun baruanya

    menyenangkan 🙂

    Waduh, basa jepun… Wanda saya…wa ndak tau. Minta bantuan om google translate nih.

    Thanks! Tahun baru, cemangad baru. Ma’an najah!

  38. Terimakasih buat yg dah mampir. Maaf blm ada postingan terbaru en blm sempat blogwalking. Sibuk “offline” dulu. 😀

    Sementara tuk bls komen masih bs via hp.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s