Benarkah dengan berhemat bisa kaya?

batang_emasPernah dengar pepatah “Hemat Pangkal Kaya” ??

Mesti pernah donk! Zaman masih eS-De dulu, kita pasti sering mendengar banyak pepatah yang sejenis itu, semisal Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh, Bersih Pangkal Sehat, dan sebagainya. Masih terekam dalam memori tentunya.

Nah, kalau begitu, kita kembali lagi ke laptop. Ups! Empat mata dah disensor ding pepatah “Hemat Pangkal Kaya” ini.

Ada yang tahu maksud pepatah itu?

Coz, kalau dipikir-pikir, apakah benar dengan berhemat maka otomatis kita akan menjadi kaya? Berarti, sangat mudah sekali untuk menjadi kaya itu. Cukup dengan berhemat. Sederhana!

Tapi….apa iya semudah itukah? Tentunya, untuk mengubah suatu keadaan tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Mari kita simak!

Sebelum kita urai lebih lanjut, ada latar belakang cerita mengapa saya ingin membicarakan tentang hal ini.

Begini nih…

Pekan lalu, tepatnya 19 November, diadakan acara wisuda program Sarjana di gedung Grha Sabha Permana (GSP) UGM. Banyak juga teman saya yang lulus periode November ini. Itulah hari pertama mereka resmi menjadi insyinyur muda alias Sok Tau Sarjana Teknik (S.T.). Untuk itu, bolehlah gelar S.T. disematkan di belakang nama mereka. Meskipun, ada yang beranggapan bahwa gelar Insinyur (Ir.) jauh lebih keren daripada Sarjana Teknik (S.T.). Dulu, pernah ada seorang teman yang bilang, menurutnya gelar ‘S.T’. bisa diganti dengan ‘Ir.’ bila tergabung dalam wadah Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Itu kalo saya gak salah ingat (CMIIW).

Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang-bagi yang sudah lulus-adalah mau kemana nih para sarjana-sarjana ingusan (istilah kerennya: fresh graduate) itu setelah LULUS ?

Jawabannya tentu beragam, ada yang ingin lanjut S2, ada yang ingin berwirausaha, ada juga yang masih bingung (nah loh!? πŸ™„ ), ada yang langsung melamar, baik melamar kerja maupun melamar anaknya orang. Karena-konon katanya-kalau ijazah sudah dikantong, yang lain mah, gampang! Apalagi untuk melamar seorang gadis. Wew, apa iya? :mrgreen: Entahlah.

Saat ini, betapa banyaknya sarjana-sarjana yang dihasilkan dari suatu perguruan tinggi (PT), namun tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang terbatas. Tentunya hal ini masih menjadi suatu masalah di negeri kita. Karena para sarjana-sarjana ingusan itu terpaksa menjadi ‘pengangguran intelektual’.

Bicara mengenai hal tersebut, saya jadi teringat dengan salah satu buku yang pernah saya baca, yaitu “Kaya Tanpa Bekerja”. Dalam buku ini disebutkan bahwasanya, selama ini masalah mendasar di tengah masyarakat bukanlah kekurangan supply tenaga kerja sehingga harus berusaha keras menyempurnakan sistem pendidikan agar alumnusnya siap kerja. Masalahnya adalah bagaimana masyarakat dapat memiliki kemampuan mendapatkan dan mengelola uang dengan baik, terutama dengan mengelola bisnis sendiri (wirausaha). Celakanya. sistem pendidikan justru tidak mengajarkan. Kalaupun ada materi pelajaran ekonomi, sistem pembukuan, manajemen, atau akuntansi, dan lainnya, materinya kurang aplikatif.

OK! Sekarang kita kembali lagi ke akar permasalahan sebagaimana yang sudah saya singgung di paragraf-paragraf pembuka tulisan ini.

Kita selama ini sering mendengar-zaman masih sekolah dulu-pepatah “Hemat pangkal kaya”. Tapi, pihak sekolah kurang memberikan suatu cara bagaimana berhemat yang baik sehingga kita dapat mengelola keuangan yang ada dengan optimal. Pepatah ini memang tidak salah, tetapi apakah hanya dengan berhemat kemudian orang otomatis menjadi kaya? Tentu harus ada kemampuan lain untuk mengelola uang tersebut dan tergantung pada penggunaannya. Apakah untuk membeli aset-aset produktif ataukah konsumtif, itulah penentunya. Namun, hal inilah yang kurang diajarkan di sekolah.

Pendidikan kecerdasan keuangan penting untuk mengarahkan seseorang agar berpikir bijak dalam membelanjakan uang untuk hal-hal produktif, tidak konsumtif belaka. Pendidikan tentang keuangan juga akan mengarahkan kita untuk tidak menjadi hamba uang, tetapi bagaimana uang dapat menjadi budak kita yang bekerja sepanjang hari, 24 jam untuk kita.

Dalam buku tersebut juga disebutkan, bahwasanya berbagai indikasi sekolah tidak mengajarkan tentang uang dapat dilihat dari berbagai alasan, yaitu:

  1. Belum ada kewajiban materi kewirausahaan di sekolah umum. Kalaupun ada materi seperti pelajaran ekonomi, manajemen, akuntansi, dan pemasaran, materinya hanya sebatas diajarkan namun kurang aplikatif serta tidak dengan praktek bisnisnya sehingga mereka hanya mengajarkan secara text book.
  2. Proses pendidikan dari Β Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT), selama 16 tahun tidak memberikan arahan kepada siswa-siswanya untuk menentukan cita-cita secara spesifik di masa depan, sehingga siswa melangkah tanpa arah yang jelas. Bersekolah hanya dianggap sebagai kewajiban dan kelaziman di masyarakat. “Pokoknya sekolah, mau jadi apa terserah nanti! Orang pintar pasti enak hidupnya!” Begitu guru dan orangtua mendoktrin kita. Padahal cita-cita sangat penting untuk mengetahui potensi diri, fokus pikiran, dan petunjuk untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan sebagai modal meraih sukses.
  3. Terdapat kesenjangan yang tajam antara teori atau pelajaran dengan dunia nyata.
  4. Komitmen untuk menumbuhkan kreativitas dan inovatif masih rendah dari sistem pendidikan yang ada. Padahal ini sangat diperlukan untuk menumbuhkan mental berani mencoba dan tidak hanya bermental ‘aman’. Kesuksesan dan kekayaan membutuhkan sikap inovatif dan kreatif. Inilah ciri utama seorang entrepreneur.

“Apa yang saya temukan, secara konsisten,

bahwa dari semua faktor yang terlibat dalam keberhasilan keuangan,

kerja keras adalah yang pertama,

dan lulus dengan nilai TOP ada di peringkat terakhir.

Kebanyakan milyuner mendapat nilai ‘B’ dan ‘C’ di kampus.

IQ bukanlah indikator sukses.

Milyuner membangun kerajaannya dari kreativitas dan akal sehat.”

[Thomas Stanley]

Saya jadi teringat pesan ‘Si Ikal’ dalam salah satu novel tetraloginya, “Sang Pemimpi”, bahwa mengajarkan mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita. Sepakat! Sebab, ribuan teori akan mudah dikalahkan oleh satu pembuktian.

Jadi, untuk menjadi kaya itu tidak semudah hanya dengan berhemat. Harus ada kemampuan lain, yaitu seni mengelola uang. Pendidikan kecerdasan keuangan. Begitu kali ya.

Referensi:

Hirata, Andrea, 2006. Sang Pemimpi, Penerbit Bentang, Yogyakarta.

Muhammad, Safak, 2006. Kaya Tanpa Bekerja, Penerbit Republika, Jakarta.

Iklan

48 thoughts on “Benarkah dengan berhemat bisa kaya?

  1. Memang iya, kalau pendapatan sedikit, bagaimana mau berhemat? Laha wong untuk kebutuhan yang pokok aja sulit, Jadi kalau untuk kaya, harus ada pendapatan lain selain pendapatan pokok kita atau pendapatan pokok saja, tapi dalam jumlah yang layak untuk hidup.

    ya begitulah mas Prim. Pendapatan yg ‘pas-pasan’, jangankan utk berhemat, wong utk ditabung aja (terkadang) gak ada.

    Banyak jalan menuju Mekah. Begitu pula tuk menjadi kaya. Diperlukan kerja keras tentu saja.

  2. Eh beneran kok… Lha paman saya itu buktinya, paman Gober :mrgreen:

    apanya yg beneran? Maksudnya pamannya sampeyan itu sering berhemat lantas jd kaya gitu? *buta soal cerita donald duck*

    tapi, itulah dunia kartun. Semua bisa terjadi. Tak ada yg tak mungkin.

  3. Tivikir-vikir iya sih, n’ masuk akal juga. Kalo cuma hemat bisa bikin kaya berarti anak seusia aku bisa jadi kaya tuh… (:-)Nabung:-))

    gak usah terlalu dipikirin, Get. Gak bakal keluar di ujian kok. :mrgreen:

    Tipsnya gini kali Get, kalo kamu dikasih uang (lumayan besar lah), sebelum dibelanjain, baiknya disisihkan dulu tuk ditabung, baru sisanya tuk belanja. Atau ditabung semuanya :p
    Kalo nyali pebisnis, biasanya ditabung sebagian, trus sisanya diputar lagi tuk modal bisnis.
    *sok bijak*

  4. Makasih, pojok-kataku di link di sini.
    Salam kenal!

    sama-sama, Pak.

    Maaf kalo trackback-nya diem-diem tanpa permisi. Sy taruh di blogroll agar lebih mudah utk berkunjung ke blognya, Pak πŸ˜€ meskipun sy (barangkali) blm pernah komen.

    senang bs berkenalan meski cm via blog.

  5. wah artikel ni membesarkan hatiku dan menguatkan semangatku. apalagi kalimat :

    ” … kerja keras adalah yang pertama,dan lulus dengan nilai TOP ada di peringkat terakhir … ”

    hehehe … nilaiku jelek2 soalnya :mrgreen:

    berarti, sampeyan tipikal pekerja keras ni.

    Tulisan boleh menginspirasi, semangat bisa memotivasi, tapi AKSI menjadi kunci. Tanpa ada aksi/tindakan nyata sama aja dg ‘nato’ (no action talk only) alias ‘omdo’ (omong doank). :mrgreen:

    nilai jelek?? ah yg boong, mas.

  6. Kerja keras dan tentyunya kerja cerdas akan lebih baik. btw. CMIIW itu apa sih / siapa?

    yup, sepakat!

    Mengenai CMIIW, itu merupakan akronim dari ‘Correct Me If I’m Wrong.’ Atau kalo dlm bhs Nasional kita, koreksi saya bila salah. Demikian Pak.

    Terimakasih.

  7. gaji saia hanya pas buat hidup 1 bulan..hehehe..itu udah hemat bgd, masuk tabungan sie separuhnya πŸ˜€
    ayo hemat..hemat!

    udah kaya blom nih, mbak?
    Jadi, yg mbikin kaya itu berhemat apa menabung sih? Nah loh!

  8. jadilah entrepreneur. jangan lupa: bekerja keras dan bekerja cerdas. (sok tau mode: ON)

    entrepreneur!? Sapa takut. Berani kaya, berani tdk mjd pegawai (?) πŸ™„
    “sembilan pintu rejeki berasal dari perdagangan dan hanya satu pintu yg berasal dari menjadi pegawai”

    usaha dlm bekerja sering diartikan kerja yg sungguh-sungguh. Ada pengorbanan, tdk selalu memperoleh yg t’baik, namun menikmati proses yg t’baik. Kerja yg sungguh-sungguh bkn berarti bekerja keras, namun bekerja cerdas (smart work) berlandaskan keseimbangan hidup. Inilah kunci sukses tuk meraih kesejahteraan. *sok tau bangetz mode: ON*

  9. Yang pasti orang “hemat cenderung pelit” hi hi hi…

    masa sih, mas!? *belagak mikir*

    sy blm mengerti akan kecenderungan tsb. Bisa iya bisa pula tdk. Tp hemat dan pelit jelas jauh berbeda.

    Btw, bagi duit donk mas. gak pelit khan. :mrgreen: hayah.

  10. mungkin tidak bisa dikatakan kaya, tapi lebih kepada ” kita akan mempunyai simpanan disaat ada kebutuhan yang mendadak dan tidak dapat dikesampingkan…”

    jadi hemat pangkal apa ya kalo bkn kaya?

    Dalam merancang anggaran pribadi kita, tentu harus ada ‘ilmunya. Harus cerdas mengelola keuangan. Mari belajar yuk. Spt pendapat dr Artha dan Dalila Sadida, selain kerja keras jg hrs kerja cerdas. πŸ™‚

  11. ga perlu berhemat untuk kaya.
    bukankah semakin banyak kita memberi akan semakin banyak juga rezeki mengalir ???

    so yang bikin kita kaya… sering2lah bersedekah.. bekerja keras,,, plus doa

    sepakat! Setiap org tentu ingin kaya. Coz, kemiskinan itu mendekatkan kpd kekufuran.

    Bila telah jd org kaya, dalam harta qt jg masih ada hak-hak org2 miskin. Jadi, berbagilah dg mereka.

    Setelah semua usaha yg telah dilakukan, lalu kita berdo’a kpd yg Maha Kaya agar ikhtiar yg kita lakukan ini diridhai-Nya. Karena do’a adalah senjatanya org mukmin. Begitu dahsyat kekuatan do’a ini. Bukan begitu!?

  12. Gak apa deh miskin harta yang penting kaya hati..
    Salam kenal mas yo,maaf baru sempat kunjung balik ^^v

    mantabs. OK deh kaya hati. Palagi selain kaya hati jg kaya harta. Komplit.

    Salam super kenal kembali (mbak?) Sie. Thanks dah mampir. Semangat ya.

  13. Pintar pangkal pandai …. membaca pangkal menulis … jadi pangkal itu aritnya apa yah?

    menurut Mbak sendiri gmn? :mrgreen: *kok, malah nanya sih(!?)*

    tak cari di KBBI dl ya.
    Btw, yg pangkal pandai tuh, pintar pa rajin ya? Ah entahlah. Wong arti dr kata ‘pangkal’ ini aja blm ketemu. Yo wis tak goleki sik artine. Atau ada yg bs membantu?

  14. kalau cara saya sih nabung dulu baru sisanya buat konsumsi
    cukup gak cukup ya harus segitu konsumsinya πŸ˜†

    malah jd ingat perkataan Arvan Pradiansyah (2004) yg menyitir perbedaan korupsi di Malaysia dan di Indonesia. “Korupsi di Malaysia, rumusnya adalah Bagikan dulu kpd rakyat nanti sisanya baru qt korupsi. Sementara di Indonesia, rumusnya adalah Bagi-bagi dulu di antara pejabat, baru sisanya utk rakyat!.” Sama saja!

    Mirip gk dg pernyataan dirimu? πŸ˜‰
    Itu jg yg sy sarankan ke dek Target Santana.

  15. setujuuh bangets….di sekolah, selama ini kita banyakan teorinyaa…. nah, masalah mindset buat sukses ga pernah diajarin..jadi dah kayak budaya turun temurun, sekolah yang tinggi, trus kerja di kantoran…..moga2 ntar bisa masuk kurikulum d mindset sukses nyaaa….

    Bener, perubahan paradigma ini perlu segera dilakukan coz pergerakan ekonomi berubah begitu cepatnya. Jgn terjebak dlm paradigma lama: LULUS SEKOLAH, JADI PEGAWAI, PEGAWAI, dan PEGAWAI. Bangsa ini membutuhkan orang2 yg mampu m’ciptakan pekerjaan, bkn orang2 yg membebani negara krn hrs menyediakan lapangan pekerjaan bg ‘pengangguran intelektual’. Bila mental, naluri bisnis, dan pendidikan ‘melek’ financial sejak awal sdh dipersiapkan dg baik, mk setelah lulus sekolah/kuliah, qt tdk perlu bingung lagi, kesana kemari mengirim ratusan lamaran kerja. Qt sdh memiliki mental sukses atau mjd pengusaha dan siap memulai usaha dg semangat. *agak sok tau mode: ON* chayo!

  16. Orang yang kanya adalah orang yang selalu merasa cukup, meskipun orang tersebut hartanya berlimpah, tapi selalu merasa kurang tetep ae kan. Jadi kekayaan tidak bisa di ukur dengan Harta. Solusinya belilah produk-produk dalam negri, halah gak nyambung.
    Belilah barang seperlunya saja.

    Harta merupakan ukuran keberhasilan suatu usaha,
    Bener gak ya?? hehehehhe
    Salam kenal

    yup, pelgunakanlah ploduk-ploduk dalam negeli. πŸ™‚

    Seberapa besar usaha dan kesungguhan qt, itu lebih penting. Sebab bila seseorang lebih mengandalkan hasil, mk dg sukses yg diraih dlm waktu cepat sering membuat sombong atau menggunakan cara-cara tdk bermoral dlm meraihnya dan sebaliknya apabila diraih dlm waktu lama dpt membuat frustasi. Oleh krn itulah seseorang yg sukses itu lebih bangga dan menghargai proses perjuangannya. Bukan memperlakukan kesuksesan atau kekayaan (harta) itu.

  17. Jaman sekarang, di saat pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, berhemat itu jadi sesuatu yang sangat sulit dilakukan…
    *speechless*

    ya begitulah bunda. Besar pasak drpd tiang. Tp awal desember 2008, harga premium turun sebesar Rp 500,- Kira-kira ngefek ke harga2 yg laen gk ya?

  18. Setiap kali ngobrol dengan teman, sahabat, atau saat memberi pelatihan saya sering memberi pertanyaan :
    “Apa yang anda lakukan bila saat ini saya beri uang sepuluh juta”

    Dari jawabannya bisa dilihat siapa yang punya cita-cita dan siapa yang tidak punya cita-cita. Kalau orang yang punya cita-cita………
    Wah Uraiannya jadi panjang nanti, mungkin akan jadi satu postingan khusus πŸ˜€ πŸ˜€

    Pada intinya saya sangat setuju dengan mas yodama…
    Sarana Blog ini mungkin bisa kita gunakan untuk membudayakan bercita-cita….Bercita-cita mulia…

    qt hrs berani bermimpi dan mengubahnya mjd cita-cita. Cita-cita jg hrs didasarkan dg niat baik, semuanya utk ibadah kpd Alloh. Dan jg, cita-cita merupakan cetak biru (blue print) bg kehidupan qt mendatang.

    Cita-cita jg hrs realistik menurut ukuran diri sendiri, bkn diukur dari diri org lain. Meskipun bg org lain tdk realistik tp jika bg qt sangat realistik, tdk masalah. Selain itu, dlm penentuan cita-cita hrs dibuat seimbang antara dunia dan akhirat, krn itulah hakikat hidup.

    Mari bermimpi dan bercita-cita yuk!

  19. Saya pernah ngobrol dengan pak Kukuh, pemilik waralaba buburq. Kata beliau setiap kali bertemu sarjana (baik yang baru lulus maupun sudah lama) selalu minta pekerjaan, tidak ada yang minta modal. Tapi kalau dikasih pekerjaan selalu pilih-pilih…

    hmm… gitu ya. Masih terjebak dlm paradigma lama: LULUS SEKOLAH, MENJADI PEGAWAI, PEGAWAI, dan PEGAWAI.

    Berarti mayoritas lulusan perguruan tinggi selalu berusaha mencari pekerjaan yg dianggap ‘mapan’ dan memberikan jaminan keamanan di masa dpn. Jarang yg bercita-cita utk memulai usaha baru atau meneruskan usaha keluarga ya mas/mbak nmdian?

    Btw, mau dong dikenalin ke pak Kukuh, asyik bs minta modal… :mrgreen:

  20. bner an kang, terbukti loh,

    gw jarang makan di sekolah buat nabung beli mobil

    (bodohnya diriku)

    maen gih kang ke saung ane

    masa sih kang? Dah pny mobil nih berarti. Boleh donk nebeng. πŸ˜€

    oh ya, sy dah mampir ke saungnya. Let’s rock the world. alah!

  21. Jadi, situ setuju atau tidak dgn pepatah “Hemat pangkal Kaya”, jawab saja ya tau tidak,

    justru itu, mas… Makanya saya postingkan hal tsb.

    Pepatah itu memang tdk salah, tp apakah hanya dg berhemat kemudian otomatis jd kaya? Paling tdk, skrg sy mendapat masukan dan pandangan dari komentar-komentar disini. Terima kasih buat seluruh komentator. πŸ™‚

    jadi… ya paling tdk mengerti ttg pendidikan kecerdasan keuangan agar berpikir bijak dlm membelanjakan uang utk hal-hal produktif, tdk konsumtif belaka. Pepatah itu benar bilamana selain berhemat jg ada kemampuan mengelola uang dan menggunakan uang tsb dg bijak. Digunakan utk membeli aset-aset produktif ataukah konsumtif, itulah penentunya.

    Thanks atas apresiasinya, Mas. πŸ™‚

  22. nice one…
    berhemat memang membuat orang menjadi kaya
    tapi… perlu juga tindakan tambahan…

    gud posting… terinspirasi nih…

    semangat dan [senyum] πŸ™‚

    yup. Thanks ya.

    Btw, tindakan tambahan spt apa ni?

    Keep smiling! πŸ™‚

  23. http://padiemas.wordpress.com/

    “Hemat Pangkal Kaya” gak deh kayaknya kalo skrg, tapi kalo” Dengan Uang Sedikit Bisa Produktif” mungkin itu sekarang menjadi keinginan sebagian orang-orang sampai saat ini masih berstatus sebagai karyawan. Bagaimana dengan uang yang masih tersisa setiap bulannya, kalaupun itu masih ada. Bisa digunakan untuk menambah income sekaligus untuk menutupi hutang.

    ‘Hemat pangkal kaya’ kalo dulu masih relevan ya?? πŸ™„

    ya benar sekali. Jgn konsumtif, tp jg hrs produktif. Thanks ya! πŸ™‚

  24. hemat pangkal kaya,bener tu…aku da rasain efeknya
    jd k-lo mo beli sesuatu pikir 2x supaya ngga terjadi pemborosan ,jd hematkaan..??(^_^)

    betul…betul… *mengangguk setuju*

    hrs ada skala prioritas dlm membeli suatu brg. Mana yg mendesak, mana yg penting, dan mana yg tdk/kurang penting tuk saat ini barangkali.

    Btw, dulu pensiunan bendahara kelas ya? :mrgreen: hehehe…

  25. hm.. sni menata uang itu gmn?
    memang sih skolah2 di indonesia itu kyknya kurak efisien.
    bandingin aja sama skolah diluar ngeri, misalnya singapura. dari jumlpah pelajaran aja udah beda. dsini kyknya terlalu bnyk pljran yg ga penting.

    seni menata uang…Msh blm ada gambaran khan? Makanya, di sekolah hrs diajarkan ttg itu. Misalnya spt yg disebutkan di postingan, materi kewirausahaan. Harapannya bs aplikatif, disertai dg praktek bisnisnya. Tdk sekedar text book.

    pelajaran gk penting?? Sy gk mau mengomentari hal ini. Memang masa SMU dl, sy merasa betapa bnyk mata pelajaran yg hrs dipelajari. Mulai dr bidang IPA hingga IPS. Sejak kls 1 SD sampai SMA bahkan kuliah, qt ‘dipaksa’ duduk diam mendengarkan guru, mencatat, tanpa dialog interaktif antara guru dan siswa. Kadang muncul jg celotehan, “makan tuh…rumus-rumus”, atau kata-kata sejenis yg mengekspresikan betapa pelajaran yg diterima lebih bnyk b’sifat menghafal dan monoton. Sekolah lebih menekankan ‘grade minded’ utk menentukan prestasi dan kelulusan siswa.

    Saat ini, sdh ada perubahan kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Tp sy gk sempat mengalaminya saat sekolah dl, coz dah kadung kuliah. Baru pd masa kuliah, selain dosen menyampaikan materi, mahasiswa jg disuruh aktif di kelas. Melalui diskusi maupun pemaparan presentasi ttg mata kuliah tsb.

    Semangat selalu ya dek Agung. Itulah Indonesia. πŸ™‚

  26. anggaran negara juga dibikin defisit supaya pembangunan tetap berjalan, ya? jadi, negara pun ga hemat, to..?

    tapi, emang butuh pengelolaan keuangan yang cerdas dan optimal..
    kalo sekarang, di awal tahun masih pada ‘hemat’, kalo akhir tahun kayak gini, baru deh kementerian negara/lembaga pada boros..
    malah disuruh boros, kayak yang diperintahkan wapres beberapa hari yang lalu.. jadinya, realisasi anggaran menumpuk di akhir tahun, deh..

    curhat nih.
    kerja di Depkeu ya, mbak? Keliatannya tahu mengenai seluk-beluk APBN? :mrgreen:

    kompleks jg ya. Dibuat defisit agar tetap bs ‘mbangun’. Jadi pantas kalo utang negara qt kian numpuk aja. Beuh. Entah butuh brp tahun tuk dpt melunasinya (plus bunganya)??

    Berharap agar negara ini bs mandiri baik dr keuangan maupun lainnya. Tdk ada lagi intervensi asing lagi. Semoga bkn hanya sekedar mimpi… arghhh..tiidaaakkk! 😦

  27. menghemat bagi saya fungsinya hanya untuk mencegah kita berbuat boros, selebihnya kalau mau kaya ya mesti investasi atau membangun bisnis dari uang yang telah kita kumpulkan

    lagipula inflasi yang terus naik tiap tahun tidak akan membuat orang jadi kaya gara2 menabung hari ini untuk kehidupan masa depan

    1 jt yg disimpan hari ini nilainya 10 tahun ke depan akan terus menurun

    bener sekali, mas. Jangan boros. Dan jg, uang jgn seluruhnya ditabung, tp ‘diputar’ juga. Lakukan investasi.

    Matur tengkyu atas sarannya. πŸ™‚

  28. belajar hemat itu berarti belajar untuk mengendalikan diri. dan pengendalian diri itu cermin pribadi yang baik.

    dan pribadi yang baik modal utama peroleh sukses dunia akhirat. insyaAllah.

    semangat mas!!!!

    terimakasih.
    Be a good person. Hidup ini memiliki 3 pilihan: bahagia di dunia-sengsara di akhirat; sengsara di dunia-bahagia di akhirat; bahagia atau sengsara dunia-akhirat. Tinggal pilih saja. Bola ada di tangan qt. πŸ™‚

    ma’an najah!

  29. β€œApa yang saya temukan, secara konsisten,

    bahwa dari semua faktor yang terlibat dalam keberhasilan keuangan,

    kerja keras adalah yang pertama,

    dan lulus dengan nilai TOP ada di peringkat terakhir.

    Kebanyakan milyuner mendapat nilai β€˜B’ dan β€˜C’ di kampus.

    IQ bukanlah indikator sukses.

    Milyuner membangun kerajaannya dari kreativitas dan akal sehat.”

    [Thomas Stanley]

    Kata – kata iki lo sing manteb

    yup…komentar si masmoemet juga bilang gitu. Nilai B atau C ora papa, bukan begitu :mrgreen:
    sepertinya, masciput nih bagus2 nilainya khan. Malah dapat A aja pengen diulang ya. alah!

    IQ bukan faktor utama. Seperti kata Ary Ginandajar, ada namanya SEQ. πŸ™‚

  30. yang menjadi kaya mungkin bukan karena kerja keras kita… apalagi karena berhemat. menurut saya kok semua itu hanya karena ridhonya….
    punya usul deh…. gimana kalau kita ganti dengan bersyukur pangkal kaya raya…. (he he he)

    wah, benar sekali Pak. Usulnya bisa diterima. πŸ™‚

    sebagaimana komentar dr easy (mbak lis), setelah segala daya upaya telah qt lakukan, maka berdo’a kpd Alloh hrs dilakukan. Karena apa pun yg qt lakukan tdk akan ada artinya jika Alloh tdk memberikan kemudahan dan ridho-Nya.

  31. Baguslah. Mikir, kerja, dan doa … lebih penting berbagi adalah modal kaya, luar dalam. Kali aja.

    yup. Begitulah pak EWA. Setelah ikhtiar sdh qt lakukan, jgn lupa jg tuk berdo’a kpd-Nya.

    Hmm…dgn berbagi bs jd modal kaya luar-dalam ya, Pak. OK deh, jgn lp tuk selalu berbagi. πŸ™‚

  32. Pepatahnya harus diganti : Memberi pangkal kaya. Kalau ini bener. Gak percaaya ? Cobalah

    Sepakat! Dg memberi (sedekah) tdk akan membuat seseorang mjd miskin. Coz, dlm harta seseorang ada hak fakir miskin yg harus ditunaikan.

    Apa yg kau tanam, itulah yg kau tuai.

  33. Ada pepatah bilang, ‘Semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima’. Hmm.. Tapi yang hemat pangkal kaya ini rada sangsi saya.

    ada jg pepatah yg bilang, “apa yg kau tanam itulah yg akan kau tuai”. Yg jelas, tdk ada jaminan kesuksesan, namun tdk mencobanya adalah jaminan kegagalan. Bukan begitu!?

    Hemat pangkal kaya? Sangsi? It’s OK. Tp berhemat jg perlu kok.

  34. hemat pangkal kaya
    itu artinya condong ke pelit ya πŸ˜€

    maksudnya? Hemat=pelit? Sy sih kurang sepakat. Hemat dan pelit tidaklah sama. πŸ™‚

    Anyway, thanks atas apresiasinya.

  35. hemad apah pelit yaa?

    diriQ da hemad ban9ed tapi masih sederhana hehheh

    jgn kikir mbak. Dibenci oleh-Nya.

    Kesederhanaan en bersahaja. Jgn lupa tuk senantiasa bersyukur. Alhamdulillah. πŸ™‚

  36. Hikmah berhemat: Bnyk uang yg bs qt sdekahkn ataw bagikan untk org lain, scara mtematika sdekah “kekayaan materi” qt brtmbh. Ketika kita brhemat, jiwa qt belajar untk mnrima ap adanya shga mnambh “kekayaan jiwa”. Cerdas mgelola keuangn, sdh pasti kmana alokasi yg tepat. Sdkah jg trmsuk investasi. Gman agr jgn smpe besar pasak drpd tiang, &cari cara kreatif supaya tetap bkerja keras (terus ikhtiar) skaligus cerdas. πŸ™‚ Jadi agen jas hujan wanita yuk, !^_^ he-he http://jashujanwanita.blogspot.com ,mksih space iklanny ya Pak …..

    Sepakat! Sedekah menjadi investasi di akhirat tentu saja.

    Ngajak kerjasama nih Bu. πŸ™‚ bolehlah beriklan disini. Free of charge kok. Semoga sukses dg usahanya.

  37. upz sori nih saking kcptn .titik koma ktinggln jgn bingung bacanya ya.. hehe.

    semangat banget niy… ampe tanda bacanya ketinggalan. πŸ™‚ gak usah buru2, alon2 waton klakon. Semoga pembaca maklum adanya ya.

  38. Urun pendapat aja, kalo dari yang saya baca sih. Sukses (termasuk uang) kuncinya 3 hal : Kerja keras, Kerja cerdas, Kerjasama. Betul begitu ?

    saya terima pendapatnya, pak.

    Bisa jg sih kunci suksesnya itu. Jd, utk sukses, hrs kerja keras, dan jg kerja cerdas yg berlandaskan keseimbangan hidup, lalu jg kerjasama dg pihak lain. Jangan lupa, bila segala daya upaya telah dilakukan (ikhtiar), senantiasa berdo’a kpd Alloh.

    Thanks tipsnya.

  39. Ping-balik: #1 IBSN™ Blog Award Article | Kurang Kerjaan!!!!β„’

  40. selamat mengikuti 1st IBSNβ„’ Blog Award.. ^_^

    Alhamdulillah. Terimakasih kalo boleh ikutan. ^_^

    Dukung saya… :mrgreen:
    btw, panitia gk boleh ikutan ya. Tp ndukung saya boleh dunks… hihi… 😳 *ngarep ae*

  41. Banyak doktrin yang salah di pendidikan kita. Entah kenapa kalau anak yang pintar “idealnya” harus masuk IPA. padhal IPS juga berprospek cerah. πŸ™„

    ya begitulah. Mungkin saja loh, seorang siswa masuk IPA karena kehendak ortu dr siswa tsb bkn karena kemauannya. Dg asumsi, jurusan IPA (katanya) lebih terjamin masa depannya, lebih banyak peluang kerjanya, lebih prestise, dan alasan lainnya.

    Namun, anak2 sekarang keliatannya lebih ekspresif para ortu pun juga memberi kebebasan kpd anak2nya. Meskipun gak semuanya ya barangkali.

    Saya setuju kalau kaya harus pandai mengelola keuangan. Nice artikel.

    kita sepakat kalo gitu. Deal! Harus cerdas mengelola uang. Untuk konsumtif ataukah produktif? Itu kuncinya!

    Thanks!

  42. Wah… kalau menurut gue lain dong……. pepatah ini kan hanya membuat orang supaya lebih waspada atau lebih gairah atau lebih motivasi jadi pepatah seperti Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh, Bersih Pangkal Sehat, tetapi boleh-boleh aja orang memberi komentar dong….. dari sudut mana orang memberi argumen…… terus bersemangat dong….. pasti tujuan baik…..

  43. hai maaf kalau beda pendapat.
    yang jadi masalah jika pendapatan kita pas-pasan maka berhemat sama saja mengurangi kualitas hidup kita, yang penting kita harus mengatur keuangan kita secara oktimal, dan bukan diatur oleh uang kita. jangan lupa berusaha menbah pendapatan kita, oke coy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s