Siapa yang aneh, ya?

Kemarin dulu, baca2 tulisan di milis, eh ada satu yang menarik perhatian saya. Subyek tulisannya tentang “Selamat jadi orang yang aneh”.

Subyek tulisannya membuat saya bertanya-tanya. “Apa maksudnya nih? Emang enak ya jadi orang aneh?? Langsung aja buruan tak klik.”

Isinya paling nggak bisa menjadi pembelajaran. Emang aneh. OK deh. Saya gak akan berpanjang lebar kali ini. Coz, saya tahu bahwasannya panjang dikali lebar sama dengan luas.  😀

Silakan disimak. Isi tulisannya kira-kira begini:

“Dunia memang aneh“, Gumam Pak Ustadz

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini.

“Tidakkah kamu perhatikan disekelilingmu, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa. Coba anda rasakan sendiri, nanti Maghrib, anda kemasjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang anda miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu kamu berjalan kemari, nanti kamu ceritakan apa yang kamu alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan peci, pakaian rapi dan wewangian dan berjalan menuju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah. Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya.

“Aduh, tumben nih rapih banget, kayak pak ustadz, mau kemana sih?” tanya ibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu yang lain rasanya.

Kenapa orang yang hendak pergi kemasjid dengan pakaian rapih dan memang semestinya seperti itu ditumbenin?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan ngasih makan anaknya ditengah jalan, ditengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang kemasjid dianggap aneh? Orang yang pergi kemasjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton sinetron barangkali.

Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.

Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,

“Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain disekitarmu”, kata Pak Ustadz.

Keanehan-keanehan” disekitar kita?

Cobalah ketika kita datang kekantor, kita lakukan shalat sunnah dhuha, pasti akan nampak “aneh” ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca koran dan ngobrol.

Cobalah kita shalat Dzuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh“, karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya tidak silau dan nyaman. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpang ditempat shalat.

Aneh bukan?

Cobalah hari ini shalat jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah kedua menjelang selesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh ditengah-tengah kiriman email yang berisi humor, plesetan, asal nimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu dan test…test…test saja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atau ayat al qur’an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar .

Jangan takut “ditumbenin” ketika kita pergi kemasjid, dengan pakaian rapih, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al qur’an (Al A’raf:31).

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha dikantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidul tak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),

ingatlah Alloh di waktu berdiri,

di waktu duduk, dan di waktu berbaring.

Kemudian apabila kamu telah merasa aman,

Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa*).

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu

yang ditentukan waktunya

atas orang-orang yang beriman” (An Nisaa:103)*

Jangan takut untuk shalat jum’at dishaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah…

“Hai orang-orang beriman,

apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at,

Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah

dan tinggalkanlah jual beli [1475].

yang demikian itu lebih baik bagimu

jika kamu Mengetahui”. (Al Jumu’ah:9)

(1475- Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muadzin telah adzan dihari Jum’at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muadzin itu dan meninggalkan semua pekerjaannya).

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat Al Qur’an, karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan, *Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah*, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:

“Sesungguhnya Aku termasuk

orang-orang yang menyerah diri?”

(Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Alloh menciptakan ladang amal bagi kita.

Kalau sekali seru, sekali kirim artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis donk ladang amal kita….

Kalau yang kirim email humor saja, gambar (maaf-red)porno, gue/elu saja, atau test-test saja bisa kirim email setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat, aneh nggak sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, sok tahu, lha wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat”

Jangan takut baca email dari siapapun, selama email itu berisi kebenaran dan bertujuan untuk kebaikan.

Kita tidak harus baca email dari orang-orang terkenal, email dari manajer, atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari email yang isinya asal kirim saja.

Mutiara akan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akan pernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekalipun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun manhaj dan syari’at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna , meskipun itu akan serasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an&Hadist), meskipun akan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akan menyelamatkan kita (di yaumul akhir, yaumul hisab dan akhirat kelak)…

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan bermanhaj yang benar…

Kenapa yang justru benar, malah dibilang aneh? Apa karena dah jarangkah orang yang melakukan kebenaran? Yang jelas, mari kita fastabikhul khairat.

Pernah juga punya pengalaman, waktu perjalanan Jakarta-Jogja dengan kereta api. Berangkat dari Gambir sekitar pukul 20:00 WIB (Waktu Indonesia Beriman 🙂 ). Perjalanan memakan waktu kurang lebih selama 8jam-an. Dan nyampe stasiun Tugu diperkirakan jam6 pagi. Hal ini tentunya membuat saya harus sholat Subuh di dalam kereta (inilah malesnya kalo harus jalan malem L ).

Saat Subuh tiba, maka harus sholat dunk. Khan sholat subuh nih satu-satunya sholat yang gak bisa dijama’ dan diqashar bukan!? Ya udah, langsung tayammum (coz gak ada air) en kemudian sholat.

Nah, pada saat itu, yang kebetulan terbangun, mungkin melihat saya heran or aneh. Ngapain ni anak, gak jelas? Tapi yang aneh menurut saya itu, ya mereka itu yang gak pada sholat. Can u tell me why? Sepertinya mereka malah asyik bermesraan dengan selimut masing-masing. Entahlah. Kalo gitu, siapa yang aneh ya ?

Itu saja dulu. Or barangkali anda punya pengalaman “aneh” lainnya?

Wallahu’alam.

Iklan

7 thoughts on “Siapa yang aneh, ya?

  1. uhhmmm… pernah baca dimana ya cerita ini?
    *deja vu*

    mungkin aja. wong saya juga dapet dari salah satu milis dari jutaan milis di dunia.

  2. saya bukan orang suci, tidak pantas menggurui. hanya bisa berusaha berbuat baik untuk sesama

    anda khan mekanik bukan guru…. 😀
    yup sepakat, fastabikhul khairat. mari kita berlomba-lomba dalam kebajikan

  3. Ya ya… Penilaian aneh atau tidak aneh diukur dari mayoritas dan minoritas. Padahal aneh belum tentu salah, lalu kenapa harus malu? Bukankah Rasul juga pada awalnya dipandang aneh karena kejujurannya sebelum pencerahan? kenapa malu?

    salam kenal dari orang aneh…

    salam kenal juga 😀 kalo emang itu benar, gak perlu malu sich.

  4. namanya aja sudah mau kiamat,di buat nyante ajalah kalo’ gak bisa2 kita jadi ikutan aneh

    yang jelas emang kiamat makin dekat….tapi ya jangan terlalu nyante juga sih, kita persiapkan bekal juga mulai sekarang… dan sebaik-baik bekal adalah TAQWA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s