Islam di Amerika…..

Tanggal 13 Juni 2008 lalu, jatuh pada hari Jum’at. Hmm, jum’at tanggal 13. Kalo istilah orang Barat, Friday the 13th. Penuh misteri. Dalam Islam, Jum’at merupakan hari yang agung. Banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam, berlansung pada hari ini.

Kembali ke postingan ajah ya. Pada hari itu, saya kembali Jum’atan di Masjid Kampus UGM seperti yang sudah saya rencanakan sejak pagi harinya. Coz, pagi jam 9, saya ada “pertemuan terakhir” mengkaji kitab muyassar di daerah pogung. Jadi, tak perkirakan selesai jam 11-an lalu bisa langsung ngacir ke TKP (baca: Maskam UGM).

Dan sampailah saya di TKP sekitar jam 11-an. Kali ini nyampe lebih awal, 1 jam sebelum khatib naik mimbar. Setelah menitipkan tas dan sandal, saya pun mengambil air wudhu. Karena masih ada 1 jam sebelum khotbah dimulai, masjid masih tampak lowong sehingga saya pun masih dapat tempat di shaf pertama dan segera dilanjutkan dengan sholat tahiyatul masjid. Lalu, dilanjutkan dengan tilawah.

Tanpa terasa, khotbah jum’at pun siap dimulai. Diawali dengan penyampaian informasi dari takmir tentang khatib yang akan naik mimbar saat ini dan jum’at depan. Dan ternyata, pada jum’at kali ini yang bertindak selaku khatib adalah ustadz Yunahyar Ilyas Lc.

Dalam khotbahnya, beliau selaku khatib tentunya mengingatkan kepada jama’ah Jum’at sekalian, dan beliau sendiri tentunya, agar senantiasa bertaqwa. Lalu, beliau menceritakan bahwasanya dia baru pulang dari Amerika setelah satu bulan numpang tinggal di negeri paman Sam. Isi khotbah beliau secara umum menceritakan tentang dakwah dan kondisi umat Islam di Amerika.

Beliau mengatakan bahwasanya Al-Qur’an memerintahkan kepada kita untuk berdakwah. Untuk mengajak kepada jalan Alloh. Perintah ini ditujukan kepada setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Tentu saja sesuai dengan batas kemampuan masing-masing. Sehingga dakwah sudah menjadi kewajiban individual, fardhu ‘ain setiap kita, dan secara umum secara bersama menjadi kewajiban politik atau fardhu kifayah.

Dalam Al-Qur’an disebutkan dalam QS.An-Nahl:125 yang menjelaskan tentang dasar-dasar dakwah dan sikap Islam terhadap lawan.

125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu

dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik

dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui

tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya

dan Dialah yang lebih mengetahui

orang-orang yang mendapat petunjuk.

*[845]. Hikmah: ialah perkataan yang tegas dan benar
yang dapat membedakan antara yang hak
dengan yang bathil.

Beliau menjelaskan tentang firman Alloh tersebut, yaitu: “Ajaklah (karena mad’u-nya gak disebutkan disini, maka bersifat umum siapa saja yang bisa diajak) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, yakni dengan nash (Al-Qur’an dan Hadits) dan aqli (dengan akal pikiran kita) dengan cara yang terbaik.”

Pada saat kunjungan beliau ke Amerika lalu selama sebulan lamanya itu, beliau bertemu dengan dua orang Da’i yang berasal dari Indonesia, yaitu Imam Syamsi Ali di New York (The city that doesn’t sleep katanya) dan Ustadz Al-Jouban or Joufan or Joufar or Jo….. sapa gitu, coz saya kurang jelas mendengar yang beliau ucapkan (forgive me 😦 ). Tapi saya kira si Ustadz Al-Jouban (maaf kalo salah). Kedua da’i tersebut merupakan saudara kita sebangsa dan setanah air, yaitu dari Indonesia.

  1. Imam Syamsi Ali (New York)

Beliau berasal dari Makassar. Baru berumur 42th. Beliau menjadi imam tiga masjid. Pertama, Imam Masjid Islamic Centre New York. Sebuah masjid yang sangat besar berlantai dua. Lebih besar daripada masjid kampus UGM bahkan (padahal maskam UGM sudah cukup besar :)). Kedua,Imam khusus untuk masjid masyarakat Bangladesh disana, Jamaica Muslim Centre. Dan yang ketiga,Imam Masjid Indonesia, Masjid Al-Hikmah.

Beliau juga sering diundang untuk ceramah ke sinagog, gereja-gereja untuk masyarakat disana. Dan berfungsi baik untuk mempersatukan umat Islam antar bangsa disana dan menjadi jembatan dengan pemeluk agama yang lain.

Nah, yang menarik, di Islamic Centre New York sono noh, dibuka kelas khusus yang disebut Islamic Forum for non-Muslim en Islamic Forum for new-Muslim. Hikmah dari peristiwa 9/11 or WTC, banyak orang Amerika yang penasaran dan pengen tahu tentang Islam. Nah Islamic Centre inilah yang mewadahi untuk masyarakat disana, sapa saja yang pengen tahu tentang Islam silakan datang setiap Sabtu dan akan dilayani untuk berdebat or berdialog or diskusi tentang Islam. Nah, rata-rata setelah program itu dibuat, setiap minggu itu ada 2-3 orang Amerika yang masuk Islam. Yang ditangan ustadz Syamsi saja, sudah lebih dari 150 orang Amerika dengan bermacam-macam latar belakangnya untuk masuk Islam.

Ada yang datang dengan kemarahan dan kebencian. Bahkan begitu dibuka dialog, langsung menuduh Nabi Muhammad sebagai pembunuh, sebagai perampok, dan segala macamnya. Tapi dengan sabar dilayani. Dan ada yang bisa cepat menerima Islam dan ada yang sampai dua tahun. Yang menarik, ada seorang perempuan, sudah belajar Islam dua tahun dan sudah memakai pakaian busana muslimah, kemana-mana dia pakai kerudung, dia sholat lima waktu, dia puasa ramadhan, dia juga sudah mengamalkan ajaran Islam yang lain. Tapi, kalo ditanya, dia mengatakan belum masuk Islam. Jadi, dia belum sholat di masjid. Karena apa? Dia katakan bahwa dia sedang serius mempelajari Islam dan mencoba mengamalkan Islam. Kalo hatinya sudah betul-betul mantap, dia baru akan membaca dua kalimat syahadat.

Nah kasus seperti ini sering terjadi. Di Jepang waktu bulan Ramadhan tahun 2006 (saat sang khatib kesana), beliau ketemu dengan dua orang Jepang. Bahkan yang mengantar beliau, sudah punya nama Islam Hamzah. Waktu beliau sholat di masjid, Hamzah ikut berjama’ah berdua dengan beliau. Tapi, ternyata dia belum membaca dua kalimat syahadat dan belum muslim. Dia (baca: Hamzah) mengatakan, “Saya mencoba mengamalkannya terlebih dahulu, baru membaca dua kalimat syahadat. Kalo saya sudah bisa secara konsisten, secara penuh mengamalkan ajaran Islam ini. Baru saya membaca dua kalimat syahadat”.

Kalo sekarang oleh gurunya, kebetulan juga dari Indonesia, seorang wartawan yang sudah begitu 20 tahun tinggal disana, begitu disuruh membaca dua kalimat syahadat, dia mengatakan: “Saya belum siap menjadi muslim yang sebenarnya. Nanti kalo saya sudah siap baru membaca dua kalimat syahadat.”

Fenomena ini kalo kita refleksikan bertolak belakang dengan fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Yang orang begitu mudah mengaku sebagai muslim, begitu sering membaca dua kalimat syahadat bahkan membaca laa ila ha ilallah berkali-kali, mungkin ratusan kali, ribuan kali. Tapi dengan ringannya juga tidak melaksanakan ajaran Islam.

Sementara ada saudara-saudara kita yang bersusah payah mempelajari agama Islam, bahkan sampai dua tahun dan mencoba untuk melaksanakannya, kalo dia belum bisa untuk menerima dan akan melaksanakan semua ajaran Islam, dia belum mau untuk membaca dua kalimat syahadat.

Mungkin pertanyaan yang tepat bukan mana yang lebih baik, mengamalkan dulu lalu membaca dua kalimat syahadat. Atau membaca dulu lalu tidak mengamalkan. Mungkin bukan mana yang lebih baik. Karena yang lebih baik tentu saja membaca dua kalimat syahadat dan mengamalkannya.

  1. Ustadz Al-Jouban

Kalo tadi ustadz Syamsi di New York, sekarang ustadz ini di wilayah Seattle. Spesialis menjadi ustadz bagi orang-orang penjara. Dan sudah banyak kawan, terutama yang berkulit hitam narapidana (napi) yang masuk Islam di tangannya. Beliau asli Purwakarta. Sekarang jabatannya menjadi Imam Penjara untuk negara bagian Washington.

Pernah ada kasus, seorang napi yang ditakuti bukan hanya oleh sesama napi, tapi juga ditakuti oleh petugas sipir penjara karena begitu galaknya. Kalo dia tidak suka makanan, dia suka melempar dan membanting makanan tersebut.

Ustadz Jouban lalu meminta izin kepada sipir penjara untuk berdakwah kepada dia. Petugas sipir penjara lalu memperingatkan, “Ustadz!! Engkau tidak akan berhasil. Sudah berapa orang pendeta datang menemuinya. Tidak bisa”. “Saya akan coba!!”, jawab ustadz Jouban.

Lalu, sang napi diajak oleh ustadz Jouban dan berdialog. Pertanyaan pertama ustadz adalah apa kata Al-Qur’an tentang Yesus? Dan itu sudah dipersiapkan oleh ustadz Jouban. Dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an siapa yesus itu. Siapa nabi Isa Al-Masih? Dan setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya dia masuk Islam.

Dan kemudian sang napi minta diajari tatacara sholat. Tatkala diajari sholat yang dimulai dengan takbiratul ihram, dia mengajukan pertanyaan yang khas orang Amerika, why? Kenapa saya harus angkat tangan? Biasanya, kalo seorang muslim akan menjawab kalo ini diperintahkan oleh Rasulullah. Tapi, bila sang napi tadi diberikan jawaban seperti itu, tentu tidak akan memuaskannya. Harus dicarikan logikanya, rasionalisasinya sampai mereka puas. Apalagi orang-orang seperti itu.

Kenapa? Ustadz Jouban mengatakan, “Kamu khan seorang napi, yang sering berurusan dengan polisi. Kalo kamu ditodong polisi, apa yang kamu lakukan?”. “Angkat tangan”, jawabnya. “Tanda apa?”, timpal sang Ustadz. “Tanda menyerah…”, balasnya. “Islam itu adalah agama penyerahan diri. Trus kamu angkat tangan, tandanya kamu menyerah kepada Tuhanmu.”, terang ustadz Jouban. Dengan jawaban ngarang-ngarang seperti itu ternyata dia puas. OK!! Walaupun tidak ada di dalam kitab-kitab jawaban seperti itu.

Nah, bagaimana nanti kalo ditanya lagi, kenapa ruku’? kenapa sujud? Kenapa pakai tahiyat? Dsb… Sebelum ditanya, ustadz Jouban menguncinya terlebih dahulu. “Kalau kamu sudah angkat tangan ditodong polisi, apa yang kamu lakukan selanjutnya?”, tanya ustadz Jouban. Jawaban dia, “Terserah polisi saja. Kalo polisi gak ngomong apa-apa, saya akan tetap begini terus. Kalo kata polisi duduk, saya duduk. Kalo kata polisi berbaring, saya berbaring. Kata polisi jongkok, saya jongkok”. “Persis!! Karena kamu sudah menyerahkan diri kepada Tuhan, maka gerakan selanjutnya terserah Tuhan. Kalo kamu disuruh ruku’ ya ruku’. Disuruh sujud ya sujud”. balas ustadz dengan cepat.

Dengan jawaban mungkin setengah ngawur seperti itu, Mr.Johnson (sang napi) mengatakan OK. Dan dia kemudian sholat. Dan dia juga sholat malam. Hingga disaksikan oleh teman-temannya, yang kaget bercampur bingung juga barangkali melihat yang sedang dikerjakan Mr.Johnson saat itu, bahwasanya ini ada olahraga gaya baru. Tengah malam geraknya diam-diam.

Dan yang menarik adalah, perubahan tingkah laku Mr.Johnson sang napi tadi. Dari seorang yang sangat ganas di penjara menjadi seorang yag sangat baik, sangat lembut. Sehingga petugas-petugas penjara bertanya kepada ustadz Jouban, “Engkau apakan dia? Kenapa bisa berubah seperti itu?”. Dan perilaku baik, yang berubah 180o itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi napi-napi yang lain. Maka di tangan dia, banyak orang yang masuk Islam. Oleh sebab itu, Islam menyebar di dalam penjara.

Menurut aturan di Amerika. Kalo di suatu penjara ada 100 orang muslim atau pemeluk agama yang lain. Maka, pemerintah wajib membangunkan tempat ibadah. Kalo mereka Kristen, bangunkan gereja. Kalo mereka muslim harus bangunkan masjid kalo sudah 100 orang. Tapi, hal itu tidak pernah terjadi. Karena sentimen selalu ada. Kalo sudah sampai 70 orang yang Islam, yang lain dipindahkan. Jangan sampai ada di sebuah penjara itu sebuah masjid pun. Itulah, karena sistem mereka kuasai. Tapi Alloh berkehendak lain. Dengan selalu dipindahkan, supaya tidak sampai 100 orang. Maka, berpindahlah orang-orang Islam ini dari satu penjara ke penjara yang lain. Itupula yang menjadi hikmahnya mengapa Islam cepat menyebar dari satu penjara ke penjara yang lain? Karena ada orang-orang Islam yang dipindahkan ke penjara-penjara yang lain.

Oleh sebab itu, dengan adanya dua pengalaman dari dua da’i kita, dari Indonesia. Satu, berdakwah di kalangan orang-orang terpelajar di New York pada orang-orang yang berpendidikan tinggi. Dengan memberikan kursus tentang Islam. Memberikan pelayanan, mo bertanya, mo berdebat, atau apa saja. Dan kedua, dakwah dari ustadz Jouban yang khusus untuk orang-orang terpidana. Dan keduanya Alhamdulillah berhasil. Congratulation!!

Dan ini menjadi tantangan bagi kita. Dan mereka banyak berharap kepada Indonesia yang penduduknya muslim terbesar. Yang mestinya kita mulai memilkirkan tidak hanya berdakwah di kalangan Indonesia saja atau menyelesaikan problem-problem terbaru kita. Tapi, juga ada yang bisa aktif berdakwah pada masyarakat-masyarakat dunia di tempat yang lain. Seperti yang telah dilakukan oleh dua orang da’i itu.

Kadang-kadang di dalam perjalanan kita menyaksikan, baik di Amerika maupun di Eropa. Orang-orang Islam harus naik mobil. Terkadang sampai 15 menit or 20 menit. Hanya untuk bisa sholat berjama’ah di sebuah masjid. Karena tidak mungkin ada masjid dimana-mana. Walaupun harus sholat Isya’ jam 10.30 malam. Harus sholat Shubuh jam 4 pagi. Dan harus naik mobil 15-20 menit. Tapi, beliau menyaksikan sendiri, betapa bergairahnya umat Islam untuk menjalankan ibadah sholat lima waktu di masjid.

Kadang-kadang kita malu di negeri kita (baca:Indonesia) ini. Masjid sangat dekat. Gak usah naik mobil. Hanya melangkah beberapa langkah. Dan dimana-mana ada masjid. Tapi umat Islam tidak terpanggil untuk sholat jama’ah di masjid. Apakah kita harus tinggal dulu, di negeri-negeri seperti Amerika itu. Merasakan betapa susahnya mencari masjid untuk sholat berjama’ah. Lalu, baru kita terpanggil untuk sholat berjama’ah. Mudah-mudahan dengan melihat hal ini, kita terpanggil untuk selalu bersemangat sholat berjama’ah lima waktu di masjid. Maka, kalo tidak lima waktu, paling kurang dua or tiga waktu. Jangan sampai, masjid-masjid di lingkungan kita itu yang indah… di perumahan lagi. Tapi, kaum muslimin tidak peduli, seakan asing dengan masjid kita itu. Bayangkan dengan kaum muslimin yang berdomisilidi negeri-negeri yang minoritas, mereka harus keluar rumah tengah malam untuk dapat sholat berjama’ah di masjid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s