Salahkah FPI terkait tragedi Monas 1 Juni 2008??

Pada awal bulan ini, kita dihebohkan dengan berita “tragedi di monas”, antara pihak AKKBB vs FPI. Saat ini pihak kepolisian telah menangkap sekitar 54 orang, terkait dengan peristiwa tersebut. Kemudian, wacana yang beredar adalah pembubaran FPI. Apakah emang FPI benar-benar “bersalah” nih?  Akan menjadi sangat ironis nantinya bila FPI dibubarkan padahal FPI mengakui Muhammad sebagai Rasul terakhir (khatimul anbiya/penutup para nabi) sedangkan SKB tentang kesesatan Ahmadiyah, sampai saat ini pun belum keluar juga. Padahal Ahmadiyah mengakui ada nabi setelah Muhammad, yaitu si Mirza Ghulam Ahmad dan ini jelas ajaran yang sesat dan menyesatkan serta telah menyimpang jauh dari ajaran Islam. Harapannya sich agar pemerintah segera mengeluarkan SKB deh, jadi masalah ini pun menjadi JELAS. (Ya Alloh, tampakkanlah bahwasanya yang BENAR itu BENAR dan yang SALAH itu SALAH).

Berikut ini kutipan artikel yang ditulis oleh Abu Muhammad Waskito terkait dengan peristiwa tersebut.

Sikap Adil Kepada FPI (Pasca Kasus Kekerasan di Monas)
Oleh Abu Muhammad Waskito *)

Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh sebagian aktivis Front Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang menamakan diri sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para aktivis FPI terhadap massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung Ahmadiyyah. Disana ada aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas sound system, kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat prihatin melihatnya.

Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. Melalui jubir kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi anarkhis aktifis FPI di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, disiarkan TV-TV, bahwa dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku kekerasan ditindaksecara hukum. SBY juga menekankan, “Negara kita negara hukum.” Gayung bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan di Monas.

MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas itu (Republika, 2 Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyyah, setelah pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din tidak menuntut FPI dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika Pemerintah ingin membubarkan FPI (www.jawapos. co.id, 2 Juni 2008). Arbi Sanit, pakar politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan karena mengancam kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP Anshor, Malik Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau pemerintah tidak tegas. Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan sempat terjadi keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh pemuda-pemuda tersebut (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008).

Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan. Sebelumnya juga bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan aksi-aksi nahi munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah kita menghukum FPI sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan) pasca kasus kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani melihat masalahnya secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi.

Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan dalam kasus di atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara cermat, sehingga kita bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau tidak?

Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Winarko, beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka mulanya hanya berencana berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB beraksi sampai ke Monas. “Ternyata, mereka menuju Monas juga,” kata Kombes Heru Winarko (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, “Bentrokan Akibat Pemerintah Lamban,” hal. 1).

Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar hukum. Mereka melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak kepolisian. Jika mereka beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut tidak perlu
terjadi.

Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di GlobalTV siang hari, disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di Monas tersebut. Pada mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah satu lokasi Monas sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa TOA. Mereka kadang bertakbir dan juga membaca kalimat “Laa ilaha illa Allah”.

Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang siapapun. Aksi mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai timbul masalah ketika AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI. Anda bisa bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak awal untuk berbuat kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib.

Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, “AKKBB harus mawas diri, menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, Muhammadiyyah, sampai ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga dengan FPI, tidak
usah terprovokasi, ini bahaya benar.” (Republika, 3 Juni 2008).

Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana terlihat dengan jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras menertibkan para aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, tendangan, menenangkan aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian pemuda aktivis FPI mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak mampu mencegah secara keseluruhan.

Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah
terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya mendamaikan, saya yakin akan jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam kasus tersebut, menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu mencegah aksi-aksi individu yang terlanjur terjadi.

Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita harus jujur mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha mencegah kekerasan itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak kepolisian sering
berdalih, “Petugas polisi kan manusia juga.” Polisi bisa khilaf, melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu pula dengan kasus para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada instruksi kekerasan,
tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi.

Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas ditindak secara hukum, tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu berbeda konteksnya. Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut saja- oknum aktivis FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk membubarkan lembaga Polri.

Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian warga Muhammadiyyah-misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi “bola liar” untuk membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan oleh oknum tetap dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi.

Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari lima tersangka kasus di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan sebagai lembaga FPI secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah individual case, bukan organization case. Kalau setiap kasus individu bisa menjadi dalih untuk membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji SBY yang katanya tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa dijadikan dalih untuk membubarkan kabinetnya.

Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme di Monas atas nama “negara hukum”, dia telah menggunakan dalil yang benar. Tetapi seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah. Bukankah penanganan kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur hukum? Disana ada Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi Depertemen Agama RI, rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi kepala-kepala daerah tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat “negara hukum”? Mengapa SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah hukum berlaku bagi FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi tentang kesesatan Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan Buyung Nasution, selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi keadilan hukum? Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres bisa mengintervensi kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam AKKBB yang melakukan aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah disepakati sesat oleh
Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi di bawah Kabinet SBY?

Jadi kesan yang muncul, istilah “negara hukum” itu hanya dipakai untuk mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok lain, konsep ketegasan hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan Buyung Nasution, dia bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas Islam dalam kasus
Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai “profesional hukum” ketika membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya hanya sekedar “kuda tunggangan” belaka.

Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual, emosi, mengutuk, dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli peserta aksi AKKBB. “Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris sembilu,” begitulah
kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati kekerasan ini.

Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam ketika Ahmadiyyah terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita terketuk hati ketika ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia mendakwakan diri sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan kitab At Tadzkirah
sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika ajaran-ajaran Islam dilecehkan oleh orang-orang itu?

Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam? Dan sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu, demikian mudahnya dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah). Sebagai seorang Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban, sehingga atas hidayah Allah saat ini kita menjadi Muslim?

Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan oleh kaum Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah ‘alaih. Bukan berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa dibenarkan, sebab
bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada tindakan rakyatnya sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan kepada kaum Ahmadiy membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mulai mendakwahkan Islam di masa lalu.

Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun pelakunya. Tetapi dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat secara jernih dan adil. Jangan karena sentimen, atau sudah “kadung kesal” dengan FPI, lalu
kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta’ala tetap memerintahkan agar kita selalu berbuat adil. “Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum, membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, sebab adil itu
lebih dekat kepada taqwa.” (Al Maa’idah: 8).

Wallahu a’lam bisshawaab.

*) Penulis buku-buku Islam, tinggal di Bandung. Karya buku, “Hidup Itu
Mudah” (Khalifa, Jakarta), “21 Resiko Buruk Busana Seksi” (Pustaka Al
Kautsar Jakarta), “Menepis Godaan Pornografi” (Darul Falah Jakarta),
“Ummat Menggugat Gusdur” (Aliansi Pecinta Syariat Bekasi), dll.

Iklan

14 thoughts on “Salahkah FPI terkait tragedi Monas 1 Juni 2008??

  1. Setuju…kita gak adil hanya melihat FPI dari sebelah saja, padahal FPI lah yang paling keras menumpas kemaksiatan, saya yakin didaerah Petamburan tidak ada tuh judi apalagi prostitusi.

    bener banget… kalo melaksanakan amar ma’ruf emang lebih mudah dibandingkan melaksanakan nahi munkar. Contohnya, kalo nyuruh orang laen sholat, jujur, puasa, dll khan lebih mudah dibandingkan kalo disuruh memberantas kemaksiatan seperti tempat judi, prostitusi, dsb…

    dan lebih ironis lagi, kalo misalnya nanti FPI dibubarkan, sedangkan SKB Ahmadiyah sampai saat ini belum keluar juga. Kita berharap semoga masalah ini menjadi tuntas dan clear. Amiin…

  2. cuman permainan politik untuk menghapus isue2 yg sedang merebak sebelumnya,,seperti kenaikan bbm dsb…

    politik tidak ada matinya bung,,,cara haram pun dijalankan,,,,thats human being,,,,

    kita cuma bisa berdoa aja,,supaya Tuhan bisa mengampuni yg tdk berdosa dan memberikan hidayah kepada yg berdosa…amiinnn

    ehhmmm…. bisa jadi juga sih mas oQ. Buktinya, setelah adanya insiden tersebut, sekarang,perhatian masyarakat tentang kenaikan BBM perlahan mulai beralih ke insiden monas itu. Sekarang kita lihat di media, demo2 ttg penolakan kenaikan BBM agak berkurang intensitasnya.
    apakah mungkin terlibat juga pihak intelijen dalam kasus monas tersebut? (mene ketehe 🙂 ) wallahu’alam.

    *suatu bentuk pengalihan yang “berhasil” kalo gitu*

  3. Saya cuma ingin mengingatkan yang menjadi buronan utama negeri ini malah belum ada yang tertangkap. Beritanya pun nyaris tak terdengar. Yaitu: para koruptor. Lihat:

    http://www.kejaksaan.go.id/main/koruptor.php

    Semoga kita tidak terkelabui mana yang menjadi buronan abadi negeri ini.

    wah…banyak juga ya “penjahat” yang masih bebas berkeliaran. itulah In..do..ne..sia (lirik lagu nasional). Semoga sih cuma ke-12 orang itu aja yang masih buron, jgn ampe nambah lagi. Kalo, masing2 buronan itu dah merugikan negara sebesar Rp 1M, bisa dihitung berapa kerugian yang ditanggung negara?

    hal ini mari dijadikan pembelajaran bagi kita semua….

    bangkit itu…..marah
    marah karena melihat orang lain korupsi,
    marah karena makan yang bukan haknya.
    (Deddy Mizwar)

  4. klo FPI tidak berniat untuk anarkis, mengapa mereka (FPI) banyak yg membawa kayu & bambu?? klo alasannya untuk bendera, saya lihat betul banyak dari mereka yg membawa kayu & bambu tapi tidak bawa bendera!!

    saya sangat sepakat perbedaan ahmadiyah harus disikapi, tetapi apakah yg berbeda itu harus dipukuli???

    ajaran Islam yg berbeda pendapat tuh bukan hanya ahmadiyah bung, tapi banyak banget!!

    apakah anda yakin bahwa ajaran Islam yg anda anut adalah ajaran Islam yg paling benar???

    apakah anda takut, pindah dari ajaran Islam yg anda yakini sekarang ke ajaran Islam lainnya kalau ternyata ada ajaran Islam yg lebih benar dari ajaran Islam yg anda anut sekarang???

    HANYALAH ORANG MUNAFIK YANG TAKUT TERHADAP PERUBAHAN!!

    anda bisa menjawab ke email saya k.evrian@yahoo.com

  5. anyway, tindakan FPI tidak berarti salah saat di monas, kenapa Aliansi itu ikutan masalah agama orang?
    bebas ya bebas tapi kalo Agama dah ada batasanya dong ah. Mendingan ahmadiyah jangan ngaku Islam daripada ga mau bersinggungan dengan FPI dan kekuatan yang laen.

    Lakum dinukum wa liyadin, Agamamu ya agamamu, agamaku ya agamaku.

    Mendingan ahmadiyah jangan ngaku Islam —> bener ni, selama ini Ahmadiyah mengaku Islam yang mengakibatkan terjadi polemik seperti sekarang ini. Btw, saya denger2 SKB tentang kesesatan Ahmadiyah akan dikeluarkan senin ini ya (09/06/08). Saya blom baca beritanya malah.

  6. secara umum setuju dengan kritis terhadap FPI dan ahmadiyah. Tdnya si ga ingin posting, tp pas baca postingan paling bawah, jd gatel. Pertanyaan singkat ‘n dangkal kaya gini neh yg buat susah ngejelasin. Pertanyaan mudah tp butuh jawaban yang njlimet. Smoga admin bisa tetep sabar menghadapi pertanyaan model begitu. Moga yang bertanya juga sabar dengan jawabannya. Tetap obyektif dan bijaksana. Dan yg ga kalah pentinnya, be eduated, please!

    gatel karna baca postingan mas Nardji y mas? kalo gatel ya tinggal digaruk aja mas… 😀 Semoga qt senantiasa bersama orang-orang yang sabar…Amiin. so, be patient!!ya buat mas Nardji. Jadi teringat pesan salah satu ustadz dalam kajian di Mushola Teknik (Mustek) UGM, yaitu tentang bagaimana cara kita memandang terhadap orang yang belum “paham” agama (baca: ISLAM) or bertanya tentang masalah agama? Jadi, pandangan kita tuh seharusnya seperti pandangan seorang dokter terhadap pasiennya (ramah dan selalu tersenyum). Jangan seperti pandangan seorang polisi terhadap penjahat (tanpa senyum dan gak ramah). 🙂

  7. Maap, “eduated” maksudnya “educated”, mohon diedit sblm di approve (kalau di-approve:), trims.

    maap…gak saya edit 😀 biarlah apa adanya. anyway, thank’s for ur comment.

  8. saya sangat sepakat perbedaan ahmadiyah harus disikapi, tetapi apakah yg berbeda itu harus dipukuli???

    ajaran Islam yg berbeda pendapat tuh bukan hanya ahmadiyah bung, tapi banyak banget!!

    apakah anda yakin bahwa ajaran Islam yg anda anut adalah ajaran Islam yg paling benar???

    apakah anda takut, pindah dari ajaran Islam yg anda yakini sekarang ke ajaran Islam lainnya kalau ternyata ada ajaran Islam yg lebih benar dari ajaran Islam yg anda anut sekarang???

    HANYALAH ORANG MUNAFIK YANG TAKUT TERHADAP PERUBAHAN!!

    —————-
    masalahnya ahmadiyah tuh telah melecehkan agama islam sendiri, masa ada nabi setelah muhammad??
    ahmadiyah bukanlah ajaran islam.
    sekali lagi ahmadiyah tuh bukan ajaran islam
    yang komen di atas perlu belajar lagi mengenai pemahaman agamanya..

    sepakat mas Deri…Ahmadiyah tuh bukanlah bagian dari ISLAM. Tapi, mereka mengaku sebagai orang ISLAM? Ini khan aneh, mengaku ISLAM tapi tidak percaya Muhammad sebagai khatimul anbiya dan mempunyai kitab suci “Tadzkirah” selain Al-Qur’an.

    matur tengkyu atas tanggapannya 🙂

  9. FPI? Front Preman Indonesia….
    saya cuman bilang 1 kata….
    anarkis…..

    memangnya dalam islam diajarkan kekerasan?

    Allah tidak perlu dibela…
    Allah itu kebenaran… tidak perlu dibela…
    Dia bisa menyelesaikan segala masalah dengan caranNya sendiri….

    kita sebagai manusia hanya menjalankan perintahNya dan menjauhi Larangannya….

    gitu aja koq repot….

    nanti jg Allah menghukum mereka yang berbuat salah koq… ngapain manusia menghukum manusia?

    ckcckckk kepo bener c…

    walaupun kalian membela Allah dengan cara yang salah… Allah pun tidak akan suka…

    ujung2nya kalian jg yg kena dosa….

  10. Ping-balik: Antara UNAS dan MONAS, NAAS…! « Inilah Jalanku

  11. misi numpang lewat…gw heran ama orang Islam.knp kl ada perbedaan harus pake maen pukul?knp? kenapa kl Islam kita beda harus dipukul?emg ada Islam yg paling bener?

    kenapa juga umat Islam suka salah kaprah.BONGKAR KMAKSIATAN!!!TUTUP T4 PROSTITUSI!!!!trus bis tu gmn nasib psk ny?mereka jd pelacur bukan karena hobi…mana ada wanita yg mau digituin ama orng yang g disuka…mereka pasti mengalami tekanan batin yg sangat hebat..tp mereka tetep jalanin karena mo cari duit…yg jd penyebab mereka gitu adalah kemiskinan…jd bukan dengan mukulin dan nangkepin para wts masalah prostitusi bisa selese gt aja….yg harus dibenerin adalah sikap kita sendiri dalam hidup….apakah kita pernah perduli dengan orang orang lain?peduli terhadap orang kekurangan disekitar kita……kemiskinan yang harus dilawan dengan kerja keras dan tawakkal…coba pikir apa selama ini kita sudah berusaha dengan keras dalam hal itu…..

    teman2ku yang seiman….jihad yang sebenar-benarnya bukanlah seperti yg dilakukan FPI….jihad melawan kebodohan…jihad melawan kemiskinan….jihad melawan pemimpin yang sewenang-wenang….itulah jihad yang sebenarnya…..

    kl kita menegakkan agama dengan kekerasan mungkin hasilnya akan cepat terlihat…tapi mereka melaksanakannya hanya dengan setengah hati…amal yg dilaksanakan dengan setengan hati tidak akan menghasilkan apa2…apakah kita benar2 menolong mereka?

    kebebasan dalam beragama adalah hal yang sangat mendasar…kita tidak bisa memaksakan keyakinan pada orang lain….tapi kita bisa mengubah keyakinan orang lain dengan jalan dialog dan diskusi…tukar pikiran dan pandangan mengenai agama….

    tapi saya yakin banyak orang Islam yang lebih enang maen pukul buat ngebubarin yg beda keyakinan karena mereka (umat Islam) tidak berani bertarung secara ide dan pikiran….itu semua karena agama dan wawasan mereka (umat Islam) yang dangkal……

    anda merasa Islam Anda yg paling benar…BUKTIKAN!!!!

    bukan dengan pentungan bambu!!!

    tapi dengan alasan dan nalar yang jelas……

  12. anda semua mungkin tidak tahu bagaimana sejarah perjalanan Ahmadiyah baik di indonesia maupun di negara lain. mereka memang sudah di cap sebagai oraganisasi (bukan agama) yang telah menodai ajaran Islam. sebenarnya yang menjadi permasalahannya adalah mereka mengaku islam tetapi tidak mengakui nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.
    FPI bukan hanya sebatas melakukan pembubaran tetapi lebih dari itu, mereka pun siap membina mereka yang telah keluar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. bahkan bukan hanya FPI, MUI, dan ormas Islam lain pun siap untuk melakukan “penyelamatan” Aqidah mereka yang telah menyimpang.
    Jihad apa lagi yang lebih penting selain menjaga Aqidah dari musuh dalam selimut.

    sepakat…

  13. ..dari sudut pandang mana ? dari sudut pandang siapa ? ..

    Ini artikel saya kutip sepenuhnya dari Abu Muhammad Waskito. So, dari sudut pandang beliau pak.

    Cuma, kalo menurut saya, dalam kehidupan bernegara itu ada 3 golongan, yaitu ‘ulama, ‘umara (pemimpin), dan umat.

    Tugasnya ‘ulama adalah menasehati ‘umara dan umat. Tugas ‘umara adalah memimpin umat (punya power/kekuasaan-red) dan juga menerima nasehat dari ‘ulama. Sedangkan tugas umat adalah menerima nasehat dari ‘ulama dan juga menerima pimpinan/arahan ‘umara.

    Jadi, di dalam negara ini, berperanlah sesuai dengan posisi masing-masing di dalam kehidupan bernegara. Kalo kita sebagai umat, maka jalankanlah posisi kita sebagai umat, yaitu dengan menerima nasehat dari ‘ulama dan juga menerima arahan dari ‘umara (pimpinan). Jangan kemudian kalo kita adalah umat, lantas kita berperilaku seperti ‘umara. Berarti itu zalim namanya, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya.

    Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s