Kita Masih Muda (Siapa Bilang Kita telah Tua?)

Kali ni, saya mo berbagi puisi berjudul, “Kita Masih Muda”. Sumbernya saya lupa darimana… maap ya buat penulisnya 🙂 Btw, tentang kata “muda” ini saya jadi teringat tentang stiker yang tertempel pada kaca belakang sebuah mobil tua (saya prediksi keluaran tahun 70an barangkali) yang membuat saya tersenyum setelah membacanya. Stiker tersebut bertuliskan: WIS TAU ENOM….  🙂

Nih, puisinya:

Kita Masih Muda (Siapa Bilang Kita telah Tua?)

Kawan, kita masih muda
lihat diri kita
kita masih bersemangat
berjam-jam di luar rumah
mengikis tugas
melalap beban

kawan, kita memang masih muda
coba lihat, di jalanan
tengok pula di lapangan
sebentar muncul di sana
lalu di sini

Kawan, kita memang masih muda
kalender kita hampir tak tersisa
malam kita hampir tak pernah dingin
siang kita panjang tak berjeda
lihat karya kita
dahsyat

kita memang muda
tengok tapak kita
luar biasa
kita jelas masih muda
cermati pikiran kita
tak diragukan
kita memang muda
memang ada muda di senja kita

Kawan, kita masih muda
yang bercerita apa saja
tak lelah berharap
bertemu mimpi
yang bagi kita bukan lagi mimpi

kawan, kita masih muda
bercanda tanpa jarak
menyapa tanpa dusta
akrab menggapai asa
Tapi menapa sesekali kita membisu?
ya karena kita masih muda
juga mengapa terkadang kita patah?
ya karena kita memang masih muda
lalu mengapa terkadang kita tak sanggup lagi berjalan?
karena kita memang muda
juga mengapa kerap ada harga?
untuk sebuah nama yang tak cukup bernilai
untuk seonggok harta yang tak berharga
karena memang kita masih muda
ya karena kita memang masih muda

Kawan, mungkin kita masih muda
kadang kita asyik mainkan itu
lalu sekarang mainkan ini
sambil lupakan itu

kawan, kita masih muda
banyak cadangan energi kita miliki
sebanyak alasan untuk patah arang dan futur
Tengok juga ego kita
kita juga muda
sahabat, kita memang muda
periksa daftar belanja kita
beli nama
dengan harga diri
kita memang muda

kawan, kita masih muda
tak terkecuali untuk harga diri
Kawan, kita memang muda
tapi kadang berat kaki kita
sesekali kita berbicara
dengan bahasa yang tidak mudah dimengerti
satu dua argumen kita gagap
melayang dan melayang
kawan, kita memang muda
ada curiga dan ada seteru
ada suka dan ada benci
ada marah yang berserak ragu

Kawan, kita memang muda
biarkan warna pekat eksistensi itu
tak apa ada sedikit ego
tapi kawan
kalau memang muda
mana kaki kita?
yang akan menerbangkan kita
mana tangan yang belum terayun itu?
mana hati kita yang belum lagi keras itu?

Kawan, sampai kapan kita muda di maghrib hidup?
sampai habis terbeli?
sampai habis tergadai harga diri kita?
Sampai tak ada lagi yang tak menunduk
atau meminta
atau sekedar menghormat

Kawan, kalau kita muda
semoga telaga maaf itu
tidak mau kering
juga hutan hati kita
sejuk
dan tetap dingin
karena setelah ini merah
yang hanya untuk muda
selamat jalan kawan
mari berjalan teman

Kita memang masih muda
bahkan setelah sampai di sana
kita tetap orang muda

(E.N.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s