Piye dab kabare? Ada yang tau dab? Kalo orang Jogja or pernah berdomisili di Jogja biasanya ‘ngeh’ maksud dari kata dab ini.
Dab, adalah bahasa ’slank’ Jogjakarta yang artinya mas atau sapaan akrab pada laki-laki muda, perkembangannya untuk semua kalangan laki/perempuan baik tua maupun muda. “Dab” kalau dalam padanan bahasa Inggris bermakna Dude, Guys, Joe, dan lainnya. Menurut temen saya (masa SMU), dab=mas didapatkan dari bahasa Jawa ‘walikan’ (kebalikan). Begitu pula dengan kata dagadu. Coba aja googling tuk lebih jelasnya. *kali aja ada*
Akan tetapi….*dengan gaya khas srimulat* DAB yang saya maksudkan disini bukan dalam artian seperti saya terangkan di atas, melainkan akronim dari Dapat Award Bo! Catet itu!
Jadi begini sodara-sodara, halaman ini hanya sekedar postingan mengenai “ungkapan rasa TERIMA KASIH“.
“Ada apakah gerangan?”
“Gak ada apa-apa kok. I just wanna say: thanks! nuhun! nuwun! merci! gracias! bedankt! grazie! gracias! danke! obrigado! terima kasih! syukron!”
Hanya saja, ndilalah blog yodama ini mendapatkan durian runtuh PR dan juga award. Dan di dalam PR dan award yang diberikan, ada beberapa peraturan, tapi akan ada yang aku langgar. Gpp khan.
PR dan award ini aku terima dari blog:
- PR dari Qana’ahsholihah’s weblog. Pada tanggal 25 Oktober 2008, blog yodama ini disebutkan oleh bu guru tersebut untuk mengerjakan PR dari beliau, yang diperolehnya dari blog Akang Dahsyat dan Mang Shanny juga ukhti Afra.
- Blog ‘uni’ Dalila Sadida (Dida) menjadikan diriku dalam list korbannya untuk ‘Butterfly Award’. Dalam postingannya tercatat sejak 12 November 2008. What? Dah lama rupanya. Saya baru tahu setelah tanpa sengaja melihat blog ini ada dalam list-nya. Menurutnya, award ini dia dapatkan dari om Baiquni. Dan lucunya, alasan yang diberikan yaitu pembahasan diriku tentang Jogja membuatnya ingin kuliah disana. Hmm…rasa-rasanya saya jarang meng-eksplor tentang Jogja. Ah sudahlah. Apapun itu, thanks! Matur tengkyu. Mengenai keinginan kuliah di Jogja, silahkan saja. Kulo mung nderekke mawon.
Sebenarnya, PR dan award yang dimaksud mempunyai peraturan (rules) yang sama persis. Bedanya, ummu Qana’ah tidak menyertakan logo, sedangkan award dari uni Dida ini ada logonya, sbb:

OK! It’s show time….
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Rules :
1. Each blogger must post this rules
UDAH TUH!
2. Each blogger starts with ten random facts/habbit about themselves
Sebenarnya, aku ingin melanggar aturan no.2 ini. (Sebagaimana uni Dida, ternyata dia melanggar aturan ini. Tapi ummu Qana’ah, memberi saya PR ini yang berarti harus kukerjakan). Coz, paling males kalo disuruh menceritakan tentang diri sendiri. Tapi sepertinya disinilah inti dari PR or award yang diberikan. Baiklah. Akan saya kerjakan. Cuman sepuluh khan… OK deh.
Satu! A man with glasses. Glasses alias kacamata dah jadi ‘teman setia’ sejak SD dulu, tepatnya saat masih duduk di bangku (dulu bangku apa kursi ya?
) kelas IV SDN Bekasi Timur I. Benda ini selalu nangkring dengan gagahnya di hidung bangirku ini.
Dua! Merasa malu dengan memakai kacamata (for the first time). Perasaan ini dialami saat pertama kali menyadari bahwa indera penglihatanku ini memiliki kekurangan (miopi) yang menyebabkan keindahan kedua bola mataku harus tertutupi oleh kaca. Arggghhh tidaaaakkk. Apa kata dunia? Awalnya malu banget. Apalagi saat harus memakainya di lingkungan sekolah. Coz, teman-temanku tidak ada satupun yang berkacamata. Era tahun 94/95, kacamata mungkin belum ngetrend kali ya. Apalagi handphone, friendster, facebook, plurk, twitter, blog, laptop, komputer, hingga jilbab. Suatu trend yang masih langka pada masa itu. Bisa dibayangkan rasa malu-ku saat itu.
Jadi, minggu-minggu pertama masih gak pede untuk memakai kacamata di lingkungan sekolah. Dari rumah, ketika akan berangkat ke sekolah, kacamata selalu kupakai (untuk mengelabui ortu kalo anaknya selalu memakai kacamata
), namun ketika sudah sampai kelas, kacamata selalu kumasukkan saku baju. Dasar! Akibatnya bisa ditebak, tulisan indah guruku di papan tulis tidak dapat kubaca sama sekali, meskipun dari bangku terdepan sekalipun. Tapi, tindakan naif ini cuma kulakukan selama seminggu. Coz, aku merasa tersiksa bila tanpa kacamata di dalam ruang kelas. Masak harus nyontek ke teman sebangku mulu’ untuk mencatat. Jadi, kuputuskan untuk membuang rasa malu dan minder itu, karena akhirnya hal ini sudah membuat diriku tersiksa. Kalo gini terus, bisa anjlok prestasi yang telah kuukir dengan indah. *beuh, sok merasa berprestasi* Reputasi diriku bisa turun drastis.
Tiga! Sudah puluhan kali ganti model kacamata. Yup! Sudah lupa tepatnya, berapa kali diriku berganti model kacamata ini. Dari model yang super besar (setengah lingkaran), kacanya bukan hanya menutupi mata, tapi juga sebagian pipi. Kalo ini namanya sudah bukan ‘kacamata’ lagi melainkan ‘kacamuka’.
Terlihat cupu barangkali aku dulu. Terus pernah juga berganti ke model kaca yang bulat. Lantas pernah ganti lagi yang ada tambahan kaca ribennya. Jadi, kaca ribennya bisa “plug & play” dengan menggunakan magnet. Konsekuensinya, bila kaca riben itu aku kenakan, maka hidungku ini akan menanggung beban yang lebih berat tentu saja. Tapi, untuk gaya…bolehlah.
Apalagi, kalo sinar mentari sangat menyengat, maka kaca ribennya menjadi sangat bermanfaat. Dan terakhir, yang kupakai saat ini adalah kacamata tanpa frame sama sekali. Jadi ultra ringan. Pertama kali memakainya, seperti tidak ada beban di hidung, benar-benar ringan. Serasa tidak memakai kacamata (karena saking ringannya) dan pandangan berasa lebih luas dari biasanya (karena kacanya tanpa frame). *Terlalu berlebihan barangkali ya.
* Lantas sekarang, berpikiran untuk mengganti model kacamata yang lain. Tapi, sampai sekarang belum sempat tuk mengganti dan juga belum ada alasan yang tepat untuk mencari calon penggantinya. Masih eman-eman.
Biasanya sih, yang menyebabkan diriku harus mengganti model kacamata adalah karena usia kacamata yang dah uzur (dah masuk masa pensiun); kacamata rusak, bisa akibat dipakai saat tidur, terkena bola sepak, jatuh, dsb; minus-nya nambah (kok bukan malah berkurang ya?); dan lain sebagainya.
Empat! Paling gak nyaman saat ingin maen bola or futsal. Bila kacamata ni tetap dikenakan, maka kemungkinannya, yang paling fatal bisa hancur berkeping-keping, atau gagang kacamatanya or ’sepatu’-nya bisa bergeser dari kondisi awalnya. Dan bila kacamata ni aku lepaskan, maka akan membuat pandangan menjadi blur (kurang fokus). Akibatnya, tidak bisa memberikan umpan yang akurat kepada rekan satu tim. *emang, akurat ya umpannya!?* So, sungguh dilematis. Pakai…nggak…pakai…nggak…argghhh. Kecuali, bila main bolanya mengenakan seragam, jadi lebih memudahkan. Karena bisa membedakan mana lawan mana kawan. Terlepas dari hal itu semua, tetap aja doyan kalo diajak main bola or futsal.
Lima! Masa-masa SMP dulu, pernah diberi julukan oleh teman-teman, yaitu ‘mampat’ alias mata empat. *U know why?*
Enam! Dengan berkacamata, sangat ribet kalo ingin memakai helm yang ‘full-face’. Harus melepas kacamata terlebih dahulu, helm dikenakan, baru kacamata dipasang lagi. Apalagi kalo ditambah memakai jas hujan. Bisa dibayangkan harus berapa kali diriku lepas-pakai nih kacamata. *Fuihh. Ribet dah pokoke*
Tujuh! Kalo pas foto untuk pembuatan SIM or KTP or pasfoto, biasanya kacamata kulepaskan. Karena juru poter potretnya yang menyarankan agar kacamatanya dilepas. “Biar lebih ganteng sinar blitz-nya gak mantul di kacamata”, katanya. Terkadang kacamata ini tetap kukenakan, dan si juru potret juga hanya mendiamkan saja. Diam tanda setuju bukan!? Seperti diamnya seorang gadis saat dikhitbah (dilamar) yang menandakan bahwasanya dia setuju dan menerima lamaran tersebut. Bukan begitu!?
Delapan! Waktu kecil dulu, bercita-cita ingin menjadi pilot. Terutama pilot pesawat tempur. Apalagi setelah melihat pilem Top Gun-nya Tom Cruise, hasrat ini makin menggebu. Namun, cita-citaku itu harus kukubur sedalam samudera, setelah menyadari diri ini mengalami rabun jauh. Sadar diri.
Sembilan! Bila maen ke dufan, saat menaiki wahana halilintar or tornado, otomatis aku harus melepas kacamata ini. Daripada kacamata ini jatuh dan hilang, mending kulepaskan saja. Akibatnya, tidak bisa menikmati saat-saat indah ketika menaiki kedua wahana iu. Coz, pandangan menjadi blur alias kurang fokus. Tapi, dinikmatin aja. *Selalu bersyukur dalam segala hal*
Sepuluh! Yes, terakhir. Handsome, sweet, intelligent, spontaneous, good-looking, nice friends, charming, funny, well…Enough about ME! How about you?
Sebelas! Ups!
dah sepuluh ding. Aku gak gragas kok. Itu aja dulu. Semua tentang KACAMATA!
*OK, next rule!*
3. Blogger that are tagged need write about their own blog, their ten things and post this rules. You need to choose ten people to get tagged and list their names
Nah, ini nih yang berat. Bimbang tenan. Kuputuskan aku akan melanggar aturan no.3 ini.
Aku belom bisa tuk menjadi ‘juri’ atas PR dan award ini. Setiap blog dalam dunia persilatan maya ini (menurut perspektif pribadi) memiliki keunikannya masing-masing. Jadi, demi menghindari kecemburuan sosial, maka PR dan award akan diteruskan ke siapa saja yang berminat untuk mengerjakannya atau mungkin belom pernah mendapat award ini. Sok atuh! Tinggal request saja ke saya. Nanti saya buat list-nya. Atau ada saran? *Berarti, ada 20 orang nih*
Kolang-kaling dalam gelas, calling-calling kalo gak jelas.
4. Don’t forget to live them comment telling them they’ve been tagged and to read your blog
OK! *sekarang tertib, gak dilanggar lagi*
Penutup. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih atas pemberian PR dan award ini, atas apresiasi yang telah diberikan. Dengan PR dan award ini tentunya diharapkan agar persahabatan dalam blogosphere ini dapat terus terjalin. Menambah keakraban. Meskipun tidak saling mengenal secara langsung, hanya kenal dari tulisan-tulisan yang dihadirkan dalam blog masing-masing. Itu pun sudah cukup.
UPDATE 25 Desember 2008:
>> From Dalila Sadida (again!)

rules:
- Put the logo on your blog.
- Add a link to the person who awarded you.
- Nominate at least 7 other blogs.
- Add links to those blogs on yours.
- Leave a message for your nominees on their blogs.
Korban selanjutnya….. (???)
burung cenderawasih terbang ke solo
terimakasih gitu loch!









Waaah… SD Bekasi Timur I ya.., kalo hujan banjir gak…..,^_^
hehhee.
Ok, ini Tips tampil kerene mengenakan kacamata *halah*
buatlah senyaman mungkin dan PD
…sebentar, ibu guru mau nilai PR nya, hm…. dapat 9,5 aja kali ya.. habis ad yang kurang sempurna (dilanggar)nih, tinggal comot nama bloger aja, gk usah takut salah, kan bukan matematika…:Dhehe.keep on succes ya:).
kuliah dimana bro??
hm….
sepertinya ada lagi…
http://punyadida.wordpress.com/2008/12/15/snmptn-2009-simak-ui-usm-stan-dan-teman-temannya/
Yaaa…Emmm…Apa yaaa Dab???
Kemarin mo main Dabminton, tapi UGM baru aja kena Dabai…trus ada Dabak bercula tiga lagi naik Dabjai Bajuri yang Dabannya gedhe dan suka makan Dabjigur…!
woOYYyoo…Gut_Lag Sukses Dab!
Selamat dapat
anwaraward yo Dab…BANGAD NYEDANG, DAB DARI NGALAM
…………………..
http://punyadida.wordpress.com/2008/12/26/teror-awards/
Jape methe. Pahin dab.
Assaloamu’alaikum lam kenal
kunjung balik ya