Pernah dengar pepatah “Hemat Pangkal Kaya” ??
Mesti pernah donk! Zaman masih eS-De dulu, kita pasti sering mendengar banyak pepatah yang sejenis itu, semisal Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh, Bersih Pangkal Sehat, dan sebagainya. Masih terekam dalam memori tentunya.
Nah, kalau begitu, kita kembali lagi ke laptop. Ups! Empat mata dah disensor ding pepatah “Hemat Pangkal Kaya” ini.
Ada yang tahu maksud pepatah itu?
Coz, kalau dipikir-pikir, apakah benar dengan berhemat maka otomatis kita akan menjadi kaya? Berarti, sangat mudah sekali untuk menjadi kaya itu. Cukup dengan berhemat. Sederhana!
Tapi….apa iya semudah itukah? Tentunya, untuk mengubah suatu keadaan tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Mari kita simak!
Sebelum kita urai lebih lanjut, ada latar belakang cerita mengapa saya ingin membicarakan tentang hal ini.
Begini nih…
Pekan lalu, tepatnya 19 November, diadakan acara wisuda program Sarjana di gedung Grha Sabha Permana (GSP) UGM. Banyak juga teman saya yang lulus periode November ini. Itulah hari pertama mereka resmi menjadi insyinyur muda alias Sok Tau Sarjana Teknik (S.T.). Untuk itu, bolehlah gelar S.T. disematkan di belakang nama mereka. Meskipun, ada yang beranggapan bahwa gelar Insinyur (Ir.) jauh lebih keren daripada Sarjana Teknik (S.T.). Dulu, pernah ada seorang teman yang bilang, menurutnya gelar ‘S.T’. bisa diganti dengan ‘Ir.’ bila tergabung dalam wadah Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Itu kalo saya gak salah ingat (CMIIW).
Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang-bagi yang sudah lulus-adalah mau kemana nih para sarjana-sarjana ingusan (istilah kerennya: fresh graduate) itu setelah LULUS ?
Jawabannya tentu beragam, ada yang ingin lanjut S2, ada yang ingin berwirausaha, ada juga yang masih bingung (nah loh!?
), ada yang langsung melamar, baik melamar kerja maupun melamar anaknya orang. Karena-konon katanya-kalau ijazah sudah dikantong, yang lain mah, gampang! Apalagi untuk melamar seorang gadis. Wew, apa iya?
Entahlah.
Saat ini, betapa banyaknya sarjana-sarjana yang dihasilkan dari suatu perguruan tinggi (PT), namun tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang terbatas. Tentunya hal ini masih menjadi suatu masalah di negeri kita. Karena para sarjana-sarjana ingusan itu terpaksa menjadi ‘pengangguran intelektual’.
Bicara mengenai hal tersebut, saya jadi teringat dengan salah satu buku yang pernah saya baca, yaitu “Kaya Tanpa Bekerja”. Dalam buku ini disebutkan bahwasanya, selama ini masalah mendasar di tengah masyarakat bukanlah kekurangan supply tenaga kerja sehingga harus berusaha keras menyempurnakan sistem pendidikan agar alumnusnya siap kerja. Masalahnya adalah bagaimana masyarakat dapat memiliki kemampuan mendapatkan dan mengelola uang dengan baik, terutama dengan mengelola bisnis sendiri (wirausaha). Celakanya. sistem pendidikan justru tidak mengajarkan. Kalaupun ada materi pelajaran ekonomi, sistem pembukuan, manajemen, atau akuntansi, dan lainnya, materinya kurang aplikatif.
OK! Sekarang kita kembali lagi ke akar permasalahan sebagaimana yang sudah saya singgung di paragraf-paragraf pembuka tulisan ini.
Kita selama ini sering mendengar-zaman masih sekolah dulu-pepatah “Hemat pangkal kaya”. Tapi, pihak sekolah kurang memberikan suatu cara bagaimana berhemat yang baik sehingga kita dapat mengelola keuangan yang ada dengan optimal. Pepatah ini memang tidak salah, tetapi apakah hanya dengan berhemat kemudian orang otomatis menjadi kaya? Tentu harus ada kemampuan lain untuk mengelola uang tersebut dan tergantung pada penggunaannya. Apakah untuk membeli aset-aset produktif ataukah konsumtif, itulah penentunya. Namun, hal inilah yang kurang diajarkan di sekolah.
Pendidikan kecerdasan keuangan penting untuk mengarahkan seseorang agar berpikir bijak dalam membelanjakan uang untuk hal-hal produktif, tidak konsumtif belaka. Pendidikan tentang keuangan juga akan mengarahkan kita untuk tidak menjadi hamba uang, tetapi bagaimana uang dapat menjadi budak kita yang bekerja sepanjang hari, 24 jam untuk kita.
Dalam buku tersebut juga disebutkan, bahwasanya berbagai indikasi sekolah tidak mengajarkan tentang uang dapat dilihat dari berbagai alasan, yaitu:
- Belum ada kewajiban materi kewirausahaan di sekolah umum. Kalaupun ada materi seperti pelajaran ekonomi, manajemen, akuntansi, dan pemasaran, materinya hanya sebatas diajarkan namun kurang aplikatif serta tidak dengan praktek bisnisnya sehingga mereka hanya mengajarkan secara text book.
- Proses pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT), selama 16 tahun tidak memberikan arahan kepada siswa-siswanya untuk menentukan cita-cita secara spesifik di masa depan, sehingga siswa melangkah tanpa arah yang jelas. Bersekolah hanya dianggap sebagai kewajiban dan kelaziman di masyarakat. “Pokoknya sekolah, mau jadi apa terserah nanti! Orang pintar pasti enak hidupnya!” Begitu guru dan orangtua mendoktrin kita. Padahal cita-cita sangat penting untuk mengetahui potensi diri, fokus pikiran, dan petunjuk untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan sebagai modal meraih sukses.
- Terdapat kesenjangan yang tajam antara teori atau pelajaran dengan dunia nyata.
- Komitmen untuk menumbuhkan kreativitas dan inovatif masih rendah dari sistem pendidikan yang ada. Padahal ini sangat diperlukan untuk menumbuhkan mental berani mencoba dan tidak hanya bermental ‘aman’. Kesuksesan dan kekayaan membutuhkan sikap inovatif dan kreatif. Inilah ciri utama seorang entrepreneur.
“Apa yang saya temukan, secara konsisten,
bahwa dari semua faktor yang terlibat dalam keberhasilan keuangan,
kerja keras adalah yang pertama,
dan lulus dengan nilai TOP ada di peringkat terakhir.
Kebanyakan milyuner mendapat nilai ‘B’ dan ‘C’ di kampus.
IQ bukanlah indikator sukses.
Milyuner membangun kerajaannya dari kreativitas dan akal sehat.”
[Thomas Stanley]
Saya jadi teringat pesan ‘Si Ikal’ dalam salah satu novel tetraloginya, “Sang Pemimpi”, bahwa mengajarkan mentalitas merealisasikan ide menjadi tindakan nyata barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita. Sepakat! Sebab, ribuan teori akan mudah dikalahkan oleh satu pembuktian.
Jadi, untuk menjadi kaya itu tidak semudah hanya dengan berhemat. Harus ada kemampuan lain, yaitu seni mengelola uang. Pendidikan kecerdasan keuangan. Begitu kali ya.
Referensi:
Hirata, Andrea, 2006. Sang Pemimpi, Penerbit Bentang, Yogyakarta.
Muhammad, Safak, 2006. Kaya Tanpa Bekerja, Penerbit Republika, Jakarta.








Memang iya, kalau pendapatan sedikit, bagaimana mau berhemat? Laha wong untuk kebutuhan yang pokok aja sulit, Jadi kalau untuk kaya, harus ada pendapatan lain selain pendapatan pokok kita atau pendapatan pokok saja, tapi dalam jumlah yang layak untuk hidup.
Eh beneran kok… Lha paman saya itu buktinya, paman Gober
Tivikir-vikir iya sih, n’ masuk akal juga. Kalo cuma hemat bisa bikin kaya berarti anak seusia aku bisa jadi kaya tuh… (:-)Nabung:-))
Makasih, pojok-kataku di link di sini.
Salam kenal!
wah artikel ni membesarkan hatiku dan menguatkan semangatku. apalagi kalimat :
” … kerja keras adalah yang pertama,dan lulus dengan nilai TOP ada di peringkat terakhir … ”
hehehe … nilaiku jelek2 soalnya
Kerja keras dan tentyunya kerja cerdas akan lebih baik. btw. CMIIW itu apa sih / siapa?
gaji saia hanya pas buat hidup 1 bulan..hehehe..itu udah hemat bgd, masuk tabungan sie separuhnya
ayo hemat..hemat!
jadilah entrepreneur. jangan lupa: bekerja keras dan bekerja cerdas. (sok tau mode: ON)
Yang pasti orang “hemat cenderung pelit” hi hi hi…
mungkin tidak bisa dikatakan kaya, tapi lebih kepada ” kita akan mempunyai simpanan disaat ada kebutuhan yang mendadak dan tidak dapat dikesampingkan…”
ga perlu berhemat untuk kaya.
bukankah semakin banyak kita memberi akan semakin banyak juga rezeki mengalir ???
so yang bikin kita kaya… sering2lah bersedekah.. bekerja keras,,, plus doa
kalo masih juga
Gak apa deh miskin harta yang penting kaya hati..
Salam kenal mas yo,maaf baru sempat kunjung balik ^^v
Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
http://karir-pekerjaan.infogue.com/benarkah_dengan_berhemat_bisa_kaya_
Pintar pangkal pandai …. membaca pangkal menulis … jadi pangkal itu aritnya apa yah?
kalau cara saya sih nabung dulu baru sisanya buat konsumsi
cukup gak cukup ya harus segitu konsumsinya
setujuuh bangets….di sekolah, selama ini kita banyakan teorinyaa…. nah, masalah mindset buat sukses ga pernah diajarin..jadi dah kayak budaya turun temurun, sekolah yang tinggi, trus kerja di kantoran…..moga2 ntar bisa masuk kurikulum d mindset sukses nyaaa….
Orang yang kanya adalah orang yang selalu merasa cukup, meskipun orang tersebut hartanya berlimpah, tapi selalu merasa kurang tetep ae kan. Jadi kekayaan tidak bisa di ukur dengan Harta. Solusinya belilah produk-produk dalam negri, halah gak nyambung.
Belilah barang seperlunya saja.
Harta merupakan ukuran keberhasilan suatu usaha,
Bener gak ya?? hehehehhe
Salam kenal
Jaman sekarang, di saat pengeluaran lebih besar daripada penghasilan, berhemat itu jadi sesuatu yang sangat sulit dilakukan…
*speechless*
Setiap kali ngobrol dengan teman, sahabat, atau saat memberi pelatihan saya sering memberi pertanyaan :
“Apa yang anda lakukan bila saat ini saya beri uang sepuluh juta”
Dari jawabannya bisa dilihat siapa yang punya cita-cita dan siapa yang tidak punya cita-cita. Kalau orang yang punya cita-cita………
Wah Uraiannya jadi panjang nanti, mungkin akan jadi satu postingan khusus
Pada intinya saya sangat setuju dengan mas yodama…
Sarana Blog ini mungkin bisa kita gunakan untuk membudayakan bercita-cita….Bercita-cita mulia…
Saya pernah ngobrol dengan pak Kukuh, pemilik waralaba buburq. Kata beliau setiap kali bertemu sarjana (baik yang baru lulus maupun sudah lama) selalu minta pekerjaan, tidak ada yang minta modal. Tapi kalau dikasih pekerjaan selalu pilih-pilih…
bner an kang, terbukti loh,
gw jarang makan di sekolah buat nabung beli mobil
(bodohnya diriku)
maen gih kang ke saung ane
Jadi, situ setuju atau tidak dgn pepatah “Hemat pangkal Kaya”, jawab saja ya tau tidak,
Hema pangkal kaya….artinya jangan boros dan berfoya2… tapi bukan pelit ya
nice one…
berhemat memang membuat orang menjadi kaya
tapi… perlu juga tindakan tambahan…
gud posting… terinspirasi nih…
semangat dan [senyum]
Great post!
Hemat harus lebih dibudidayakan karena hemat dengan pelit itu tidak sama
http://padiemas.wordpress.com/
“Hemat Pangkal Kaya” gak deh kayaknya kalo skrg, tapi kalo” Dengan Uang Sedikit Bisa Produktif” mungkin itu sekarang menjadi keinginan sebagian orang-orang sampai saat ini masih berstatus sebagai karyawan. Bagaimana dengan uang yang masih tersisa setiap bulannya, kalaupun itu masih ada. Bisa digunakan untuk menambah income sekaligus untuk menutupi hutang.
hemat pangkal kaya,bener tu…aku da rasain efeknya
jd k-lo mo beli sesuatu pikir 2x supaya ngga terjadi pemborosan ,jd hematkaan..??(^_^)
hm.. sni menata uang itu gmn?
memang sih skolah2 di indonesia itu kyknya kurak efisien.
bandingin aja sama skolah diluar ngeri, misalnya singapura. dari jumlpah pelajaran aja udah beda. dsini kyknya terlalu bnyk pljran yg ga penting.
anggaran negara juga dibikin defisit supaya pembangunan tetap berjalan, ya? jadi, negara pun ga hemat, to..?
tapi, emang butuh pengelolaan keuangan yang cerdas dan optimal..
kalo sekarang, di awal tahun masih pada ‘hemat’, kalo akhir tahun kayak gini, baru deh kementerian negara/lembaga pada boros..
malah disuruh boros, kayak yang diperintahkan wapres beberapa hari yang lalu.. jadinya, realisasi anggaran menumpuk di akhir tahun, deh..
menghemat bagi saya fungsinya hanya untuk mencegah kita berbuat boros, selebihnya kalau mau kaya ya mesti investasi atau membangun bisnis dari uang yang telah kita kumpulkan
lagipula inflasi yang terus naik tiap tahun tidak akan membuat orang jadi kaya gara2 menabung hari ini untuk kehidupan masa depan
1 jt yg disimpan hari ini nilainya 10 tahun ke depan akan terus menurun
belajar hemat itu berarti belajar untuk mengendalikan diri. dan pengendalian diri itu cermin pribadi yang baik.
dan pribadi yang baik modal utama peroleh sukses dunia akhirat. insyaAllah.
semangat mas!!!!
“Apa yang saya temukan, secara konsisten,
bahwa dari semua faktor yang terlibat dalam keberhasilan keuangan,
kerja keras adalah yang pertama,
dan lulus dengan nilai TOP ada di peringkat terakhir.
Kebanyakan milyuner mendapat nilai ‘B’ dan ‘C’ di kampus.
IQ bukanlah indikator sukses.
Milyuner membangun kerajaannya dari kreativitas dan akal sehat.”
[Thomas Stanley]
Kata – kata iki lo sing manteb
yang menjadi kaya mungkin bukan karena kerja keras kita… apalagi karena berhemat. menurut saya kok semua itu hanya karena ridhonya….
punya usul deh…. gimana kalau kita ganti dengan bersyukur pangkal kaya raya…. (he he he)
Baguslah. Mikir, kerja, dan doa … lebih penting berbagi adalah modal kaya, luar dalam. Kali aja.
Pepatahnya harus diganti : Memberi pangkal kaya. Kalau ini bener. Gak percaaya ? Cobalah
Ada pepatah bilang, ‘Semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima’. Hmm.. Tapi yang hemat pangkal kaya ini rada sangsi saya.
hemat pangkal kaya
itu artinya condong ke pelit ya
hemad apah pelit yaa?
diriQ da hemad ban9ed tapi masih sederhana hehheh
Hikmah berhemat: Bnyk uang yg bs qt sdekahkn ataw bagikan untk org lain, scara mtematika sdekah “kekayaan materi” qt brtmbh. Ketika kita brhemat, jiwa qt belajar untk mnrima ap adanya shga mnambh “kekayaan jiwa”. Cerdas mgelola keuangn, sdh pasti kmana alokasi yg tepat. Sdkah jg trmsuk investasi. Gman agr jgn smpe besar pasak drpd tiang, &cari cara kreatif supaya tetap bkerja keras (terus ikhtiar) skaligus cerdas.
Jadi agen jas hujan wanita yuk, !^_^ he-he http://jashujanwanita.blogspot.com ,mksih space iklanny ya Pak …..
upz sori nih saking kcptn .titik koma ktinggln jgn bingung bacanya ya.. hehe.
Urun pendapat aja, kalo dari yang saya baca sih. Sukses (termasuk uang) kuncinya 3 hal : Kerja keras, Kerja cerdas, Kerjasama. Betul begitu ?
[...] Benarkah dengan berhemat bisa kaya? [...]
selamat mengikuti 1st IBSN™ Blog Award.. ^_^
Banyak doktrin yang salah di pendidikan kita. Entah kenapa kalau anak yang pintar “idealnya” harus masuk IPA. padhal IPS juga berprospek cerah.
Saya setuju kalau kaya harus pandai mengelola keuangan. Nice artikel.
Wah… kalau menurut gue lain dong……. pepatah ini kan hanya membuat orang supaya lebih waspada atau lebih gairah atau lebih motivasi jadi pepatah seperti Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh, Bersih Pangkal Sehat, tetapi boleh-boleh aja orang memberi komentar dong….. dari sudut mana orang memberi argumen…… terus bersemangat dong….. pasti tujuan baik…..
hai maaf kalau beda pendapat.
yang jadi masalah jika pendapatan kita pas-pasan maka berhemat sama saja mengurangi kualitas hidup kita, yang penting kita harus mengatur keuangan kita secara oktimal, dan bukan diatur oleh uang kita. jangan lupa berusaha menbah pendapatan kita, oke coy